Selamat Datang di Media Online Ibnu Mas'ud...............Pemilik Media Online ini adalah H. Muh. Chaeruddin, Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Depok Kabupaten Sleman...............Silakan Isi Buku Tamu terlebih Dahulu dan Tinggalkanlah Pesan Anda.............Terimakasih atas Kunjungan Anda, Semoga Bermanfaat, Amien.
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Oktober 2012

KIAT – KIAT MEMPERERAT CINTA SUAMI ISTRI


KIAT – KIAT MEMPERERAT CINTA SUAMI ISTRI
SEPULUH KIAT MEMPERERAT CINTA SUAMI ISTRI
Oleh: H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud
Rasulullah SAW. berpesan kepada umatnya agar dalam menjalani hidup dan kehidupan dapat terwujud kehidupan yang bahagia atau sa’adah.Untuk itulah maka Rasulullah memberikan nasehat dalam sabdanya :
أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا وَحُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ
”Ada empat perkara (termasuk) di antara (penyebab) KEBAHAGIAAN HIDUP seseorang yakni ; apabila ia memiliki ISTRI SHALIHAH (penulis: jika perempuan memiliki suami yang shaleh), ANAK-ANAKnya BERBAKTI, dan masyarakat LINGKUNGANnya terdiri dari orang-orang yang SHALEH serta RIZKInya berada di negerinya sendiri (tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya)
Disamping nasihat tersebut, juga harus didukung oleh adanya kiat-kiat bagaimana mempererat cinta antara suami dan istri.

Ada SEPULUH KIAT bagaimana mempererat CINTA antara SUAMI dan ISTRI :
1. SALING MEMBERI HADIAH.
Hadiah adalah pemberian dengan tujuan untuk memberikan penghormatan kepada orang lain karena prestasi yang dicapainya. Tetapi bisa juga hadiah diberikan kepada seseorang bukan karena prestasi tapi karena ingin memberikan rasa senang dan bahagia. Dalam kehidupan rumah tangga seorang suami suatu saat perlu memberikan hadiah kepada istri, demikian pula sebaliknya. Hadiah bisa diberikan kapan saja tergantung pada situasa dan kondisi, bisa juga pada hari-hari tertentu yang ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi yang mengiringi perjalanan hidupnya
Rosulullah bersabda : “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling cinta mencintai”. (HR. Bukhari Muslim).
2. MENGHUSUSKAN WAKTU UNTUK DUDUK BERSAMA.
Duduk bersama atau bercengkrama dalam satu keluarga termasuk bagian dari kegiatan rekreatif yang bisa menumbuhkan jalinan cinta kasih antara sesama anggota rumah tangga, khususnya antara sepasang suami istri. Dari duduk bersama itu bisa lahir ide-ide baru yang bisa dilaksanakan bersama terutama dalam rangka meningkatkan kwalitas rumah tangga dan keharmonisan hubungan antara suami istri
Rosulullah bersabda : “Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya diantara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada istri-istri kalian”. (HR. Tirmidzi).
3. MENAMPAKKAN WAJAH YANG CERIA.
Menampakkan wajah yang ceria dan berseri-seri kepada setiap orang adalah gambaran keikhlasan hati yang ada di dalam dirinya. Jika dalam pergaulan antara sepasang suami istri dalam segala situasi selalu bisa menampakkan wajah berseri-seri dan keceriaan ketika sedang bertemu dan berbincang-bincang, maka dapat dipastikan bahwa di dalam hati keduanya akan terdapat keikhlasan dan ketulusan dalam menerima pasangannya apa adanya, menerima kelebihan yang dimiliki pasangannya dan bersyukur kepada Allah karenanya, dan menerima kekurangan pasangannya dengan penuh keikhlasan dan kesadaran dan berusaha untuk menutupi kekurangan itu dengan kelebihan yang dimiliki serta selalu sabar dan tawakkal kepada Allah dalam menerima kekurangan pasangannya itu.
Rasulullah bersabda : “ Sedikitpun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, walaupun hanya sekedar menampakkan wajah ceria ketika engkau berjumpa dengan saudaramu” (HR. Muslim).
4. MEMBERIKAN PENGHORMATAN YANG HANGAT PADA ISTRINYA.
Kontak fisik yang positif seperti saling berciuman secara rutin antara suami istri sangat diperlukan karena di dalam akan menimbulkan getaran kemesraan yang bermuara kepada kasih sayang antara keduanya. Sedangkan kasih sayang adalah buah dari pernikahan yang dilandasi dengan niat beribadah kepada Allah dalam bingkai TAQWALLAH.
Firman Allah SWT.:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum:21)
Banyak hadits yang meriwayatkan bagaimana ciuman Rasulullah kepada istri-istri beliau, dalam berbagai hal dan peristiwa, bahkan Rasulullah pernah menyempatkan mencium istrinya ketika akan berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat, sebagaimana yang disampaikan Aisyah RA.: ”Adalah Rasulullah SAW. mencium istrinya (ketika akan berangkat shalat) dan beliau tidak memperbaharui wudhu’nya” (H.R. Bukhari).
5. HENDAKLAH MEMUJI PASANGANNYA.
Jumhur Ulama’ sepakat pujian dibolehkan bahkan dianjurkan dengan syarat : untuk memberikan motivasi, pujian itu diungkapkan dengan jujur dan tulus, dan pujian itu tidak menyebabkan orang yang dipuji menjadi sombong atau lupa diri. Dan pujian itu untuk mengagungkan Allah melalui kekaguman pada kelebihan pasangannya yang merupakan karunia Allah.
Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam. Yang perlu difahami disini adalah bahwa ada beberapa bentuk pujian yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dalam hubungannya dengan sesama hamba Allah.
Bentuk-bentuk pujian itu sebagai berikut:
• Pujian Allah kepada dirinya sendiri
• Pujian Allah kepada hamba-Nya yang taat dan istiqamah dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya.
• Pujian seorang hamba kepada Rabb-nya (Allah SWT) dalam rangka mengagungkan dan mensucikan asma-Nya.
• Pujian seorang hamba kepada sesama hamba Allah, sebagai perwujudan kekaguman kepada ke-Maha Sempurna-an Allah akan ciptaan-Nya
Dalam konteks yang terakhir inilah terletak kebolehan seorang suami memuji sang istri dan sebaliknya. Tetapi pujian itu perlu disampaikan dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan ujub, sombong dan takabbur. Hendaknya pujian itu disampaikan masih dalam bingkai ”SEGALA PUJI HANYA MILIK ALLAH”.
6. BERSAMA-SAMA MELAKUKAN TUGAS YANG RINGAN.
Nabi melakukan tugas-tugas dirumah seperti menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandal dan lain-lainya. Dan itu merupakan realisasi dari perintah Allah dalam firman-Nya yang berbunyi:
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
”(saling) Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) KEBAJIKAN dan TAQWA, dan janganlah kamu (saling) tolong menolong dalam hal DOSA dan PERMUSUHAN, Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”~ (QS. Al-Maidah:3).
Seorang suami jangan alergi dan merasa rendah diri karena malaksanakan pekerjaan istri seperti mencuci pakaian, asah-asah (mencuci peralatan dapur), dan merawat bayi atau balita yang umumnya dikerjakan oleh seorang istri. Demikian pula seorang istri jangan merasa terbebani karena harus melaksanakan pekerjaan harian yang semestinya dikerjakan oleh seorang suami.
7. UCAPAN YANG BAIK dan SIKAP SANTUN .
Bertutur kata yang baik merupakan perintah Allah yang tertulis dalam Alqur-an, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً .
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”~ (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Pada ayat tersebut digambarkan bahwa bertutur kata yang baik tidak saja menimbulkan rasa nyaman bagi lawan bicaranya, tatapi juga memberikan dampak positif bagi para pelakunya, karena dapat memberikan nilai pahala dan juga ampunan dari Allah karena kebaikan sikapnya itu. Karena itu hindari mengucap kalimat yang tidak baik bahkan menyakitkan. Kaitannya dengan itu Rasulullah SAW.-pun bersabda :
إِنَّ خَِيَارَكُمْ خِيَارُكُمْ لِأَهْلِهِمْ وَأَلْطَفُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
~“Orang yang paling baik diantaramu adalah orang yang paling baik sikapnya pada keluarga dan paling lembut dan santun pada istrinya”~ (H.R. Muslim).
Sabda Rasulullah ini berarti pula berlaku bagi para istri pada suaminya.
8. REKREASI BERDUA TANPA MEMBAWA ANAK.
Rutinitas kegiatan yang dilaksanakan dalam kehidupan rumah tangga kadang menimbulkan kejenuhan. Kondisi seseorang yang berada dalam puncak titik jenuh sering menimbulkan persoalan tersendiri, bahkan bisa menimbulkan kebosanan. Kebosanan dalam kehidupan rumah tangga dan hubungan suami istri, akan sangat sangat berbahaya bagi kelangsungan keutuhan suatu keluarga. Karena itu kejenuhan itu jangan dibiarkan berlangsung lama. Carilah segera selusinya, misalnya dengan kegiatan yang bersifat rekreatif, bahkan bisa dengan rekreasi berdua tanpa harus melibatkan atau membawa anak. Dalam rekreasi itulah bisa saling muhasabah, menilai perjalanan hidup bersama yang telah dilaluinya selama ini. Mencari sisik melik kekurangan dan kelebihan dalam mengarungi behtera kehidupan, serta mencari cara bagaimana mempertahankan yang sudah baik dan cara memecahkan persoalan yang belum teratasi serta mencari cara bagaimana cara melengkapi kekurangan. Dalam rekreasi itu pula tidak tertutup kemungkinan dapat dikektemukan cara baru untuk meningkatkan kwalitas rumah tangga
Tujuan rekreasi berdua tanpa membawa anak adalah untuk membunuh kejenuhan, mengenang kembali saat perkenalan dan untuk semakin merekatkan rasa kasih sayang diantara keduanya. Bukankah saling menyayangi adalah anjuran Rasulullah sebagaimana dalam sabdanya :
~”Sayangilah yang ada di bumi maka kalian akan disayangi oleh yang ada di langit”~ (Muhammad Rasulullah SAW).
9. MEMPUNYAI RASA EMPATI PADA PASANGANNYA.
Rasa Empati merupakan refleksi dari rasa cinta antara keduanya dan saling mencintai adalah tuntunan dan tuntutan dalam pergaulan hidup suami istri sekaligus sebagai tolak ukur kesempurnaan iman. Sabda Rasulullah SAW. :
“
~”Tidaklah beriman seseorang diantaramu sehingga ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”~ (H.R.Bukhari dan Muslim).
Maksud yang terkandung dari pengertian mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri adalah berusaha untuk bisa memberikan kepada orang lain segala yang dia inginkan untuk dirinya sendiri dan tidak memberikan kepada orang lain segala sesuatu yang ia sendiri tidak pernah mengharapkannya bahkan membencinya. Misalnya, setiap orang pasti menginginkan agar dirinya dihormati, dihargai, dimulyakan dan dicintai dan tidak mau jika ia dilecehkan, dihinakan, diremehkan, dibenci dan tidak dihargai. Cobalah berusaha agar seorang suami atau istri bisa memberikan apa yang diharapkannya itu kepada orang pasangannya terlebih dahulu seperti; menghormati, menghargai, memuliakan dan mencintainya. Dan tidak memberikan apa yang tidak pernah ia harapkan seperti; tidak melecehkan, tidak mebghinakan, tidak meremehkan dan tidak memberncinya serta jangan sampai tidak menghargainya. Maka Insya Allah, hubungan antara suami isrti itu akan harmonis karena ada empati antara keduanya
10. PERLU ADANYA KETERBUKAAN.
Jangan sampai memendam masalah hingga bertumpuk atau jangan sampai kran komunikasi suami istri tersumbat. Memendam masalah akan menimbulkan kebuntuan hati yang akan berakibat munculnya kebencian, ketidak puasan bahkan kemarahan antar suami istri, saling menyalahkan dan sulit untuk saling mengakui kesalahan dan memaafkan. Pada akhirnya ketaqwaan akan sirna dari keduanya.
Allah SWT. berfirman:
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ . وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”~ (QS. Ali Imran: 133-135)
Semoga tulisan bisa menjadi bahan bacaan yang berarti bagi termujudnya keluarga SAKINAH, MAWADDAH dan RAHMAH. Kepada Yang saya hormati Fariq Gasim semoga ilmu yang menjadi landasan pengembangan tulisan ini, menjadi bagian dari ilmu yang bermanfaat bagi sesame dan menjadikan jalan menuju kemuliaan sejati disisi Allah bagi beliau di dunia dan di akhirat, aamiin.
*) Disarikan dari buku Lautan Cinta, Fariq Gasim, Darul Qolam, 2005. Diberi tambahan dan disajikan oleh H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud, pada penataran Calon Temanten di KUA. Kecamatan Depok Kabupaten Sleman

Selengkapnya......

KIAT – KIAT MEMPERERAT CINTA SUAMI ISTRI


KIAT – KIAT MEMPERERAT CINTA SUAMI ISTRI
SEPULUH KIAT MEMPERERAT CINTA SUAMI ISTRI
Oleh: H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud
Rasulullah SAW. berpesan kepada umatnya agar dalam menjalani hidup dan kehidupan dapat terwujud kehidupan yang bahagia atau sa’adah.Untuk itulah maka Rasulullah memberikan nasehat dalam sabdanya :
أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا وَحُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ
”Ada empat perkara (termasuk) di antara (penyebab) KEBAHAGIAAN HIDUP seseorang yakni ; apabila ia memiliki ISTRI SHALIHAH (penulis: jika perempuan memiliki suami yang shaleh), ANAK-ANAKnya BERBAKTI, dan masyarakat LINGKUNGANnya terdiri dari orang-orang yang SHALEH serta RIZKInya berada di negerinya sendiri (tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya)
Disamping nasihat tersebut, juga harus didukung oleh adanya kiat-kiat bagaimana mempererat cinta antara suami dan istri.

Ada SEPULUH KIAT bagaimana mempererat CINTA antara SUAMI dan ISTRI :
1. SALING MEMBERI HADIAH.
Hadiah adalah pemberian dengan tujuan untuk memberikan penghormatan kepada orang lain karena prestasi yang dicapainya. Tetapi bisa juga hadiah diberikan kepada seseorang bukan karena prestasi tapi karena ingin memberikan rasa senang dan bahagia. Dalam kehidupan rumah tangga seorang suami suatu saat perlu memberikan hadiah kepada istri, demikian pula sebaliknya. Hadiah bisa diberikan kapan saja tergantung pada situasa dan kondisi, bisa juga pada hari-hari tertentu yang ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi yang mengiringi perjalanan hidupnya
Rosulullah bersabda : “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling cinta mencintai”. (HR. Bukhari Muslim).
2. MENGHUSUSKAN WAKTU UNTUK DUDUK BERSAMA.
Duduk bersama atau bercengkrama dalam satu keluarga termasuk bagian dari kegiatan rekreatif yang bisa menumbuhkan jalinan cinta kasih antara sesama anggota rumah tangga, khususnya antara sepasang suami istri. Dari duduk bersama itu bisa lahir ide-ide baru yang bisa dilaksanakan bersama terutama dalam rangka meningkatkan kwalitas rumah tangga dan keharmonisan hubungan antara suami istri
Rosulullah bersabda : “Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya diantara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada istri-istri kalian”. (HR. Tirmidzi).
3. MENAMPAKKAN WAJAH YANG CERIA.
Menampakkan wajah yang ceria dan berseri-seri kepada setiap orang adalah gambaran keikhlasan hati yang ada di dalam dirinya. Jika dalam pergaulan antara sepasang suami istri dalam segala situasi selalu bisa menampakkan wajah berseri-seri dan keceriaan ketika sedang bertemu dan berbincang-bincang, maka dapat dipastikan bahwa di dalam hati keduanya akan terdapat keikhlasan dan ketulusan dalam menerima pasangannya apa adanya, menerima kelebihan yang dimiliki pasangannya dan bersyukur kepada Allah karenanya, dan menerima kekurangan pasangannya dengan penuh keikhlasan dan kesadaran dan berusaha untuk menutupi kekurangan itu dengan kelebihan yang dimiliki serta selalu sabar dan tawakkal kepada Allah dalam menerima kekurangan pasangannya itu.
Rasulullah bersabda : “ Sedikitpun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, walaupun hanya sekedar menampakkan wajah ceria ketika engkau berjumpa dengan saudaramu” (HR. Muslim).
4. MEMBERIKAN PENGHORMATAN YANG HANGAT PADA ISTRINYA.
Kontak fisik yang positif seperti saling berciuman secara rutin antara suami istri sangat diperlukan karena di dalam akan menimbulkan getaran kemesraan yang bermuara kepada kasih sayang antara keduanya. Sedangkan kasih sayang adalah buah dari pernikahan yang dilandasi dengan niat beribadah kepada Allah dalam bingkai TAQWALLAH.
Firman Allah SWT.:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum:21)
Banyak hadits yang meriwayatkan bagaimana ciuman Rasulullah kepada istri-istri beliau, dalam berbagai hal dan peristiwa, bahkan Rasulullah pernah menyempatkan mencium istrinya ketika akan berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat, sebagaimana yang disampaikan Aisyah RA.: ”Adalah Rasulullah SAW. mencium istrinya (ketika akan berangkat shalat) dan beliau tidak memperbaharui wudhu’nya” (H.R. Bukhari).
5. HENDAKLAH MEMUJI PASANGANNYA.
Jumhur Ulama’ sepakat pujian dibolehkan bahkan dianjurkan dengan syarat : untuk memberikan motivasi, pujian itu diungkapkan dengan jujur dan tulus, dan pujian itu tidak menyebabkan orang yang dipuji menjadi sombong atau lupa diri. Dan pujian itu untuk mengagungkan Allah melalui kekaguman pada kelebihan pasangannya yang merupakan karunia Allah.
Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam. Yang perlu difahami disini adalah bahwa ada beberapa bentuk pujian yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dalam hubungannya dengan sesama hamba Allah.
Bentuk-bentuk pujian itu sebagai berikut:
• Pujian Allah kepada dirinya sendiri
• Pujian Allah kepada hamba-Nya yang taat dan istiqamah dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya.
• Pujian seorang hamba kepada Rabb-nya (Allah SWT) dalam rangka mengagungkan dan mensucikan asma-Nya.
• Pujian seorang hamba kepada sesama hamba Allah, sebagai perwujudan kekaguman kepada ke-Maha Sempurna-an Allah akan ciptaan-Nya
Dalam konteks yang terakhir inilah terletak kebolehan seorang suami memuji sang istri dan sebaliknya. Tetapi pujian itu perlu disampaikan dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan ujub, sombong dan takabbur. Hendaknya pujian itu disampaikan masih dalam bingkai ”SEGALA PUJI HANYA MILIK ALLAH”.
6. BERSAMA-SAMA MELAKUKAN TUGAS YANG RINGAN.
Nabi melakukan tugas-tugas dirumah seperti menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandal dan lain-lainya. Dan itu merupakan realisasi dari perintah Allah dalam firman-Nya yang berbunyi:
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
”(saling) Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) KEBAJIKAN dan TAQWA, dan janganlah kamu (saling) tolong menolong dalam hal DOSA dan PERMUSUHAN, Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”~ (QS. Al-Maidah:3).
Seorang suami jangan alergi dan merasa rendah diri karena malaksanakan pekerjaan istri seperti mencuci pakaian, asah-asah (mencuci peralatan dapur), dan merawat bayi atau balita yang umumnya dikerjakan oleh seorang istri. Demikian pula seorang istri jangan merasa terbebani karena harus melaksanakan pekerjaan harian yang semestinya dikerjakan oleh seorang suami.
7. UCAPAN YANG BAIK dan SIKAP SANTUN .
Bertutur kata yang baik merupakan perintah Allah yang tertulis dalam Alqur-an, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً .
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”~ (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Pada ayat tersebut digambarkan bahwa bertutur kata yang baik tidak saja menimbulkan rasa nyaman bagi lawan bicaranya, tatapi juga memberikan dampak positif bagi para pelakunya, karena dapat memberikan nilai pahala dan juga ampunan dari Allah karena kebaikan sikapnya itu. Karena itu hindari mengucap kalimat yang tidak baik bahkan menyakitkan. Kaitannya dengan itu Rasulullah SAW.-pun bersabda :
إِنَّ خَِيَارَكُمْ خِيَارُكُمْ لِأَهْلِهِمْ وَأَلْطَفُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
~“Orang yang paling baik diantaramu adalah orang yang paling baik sikapnya pada keluarga dan paling lembut dan santun pada istrinya”~ (H.R. Muslim).
Sabda Rasulullah ini berarti pula berlaku bagi para istri pada suaminya.
8. REKREASI BERDUA TANPA MEMBAWA ANAK.
Rutinitas kegiatan yang dilaksanakan dalam kehidupan rumah tangga kadang menimbulkan kejenuhan. Kondisi seseorang yang berada dalam puncak titik jenuh sering menimbulkan persoalan tersendiri, bahkan bisa menimbulkan kebosanan. Kebosanan dalam kehidupan rumah tangga dan hubungan suami istri, akan sangat sangat berbahaya bagi kelangsungan keutuhan suatu keluarga. Karena itu kejenuhan itu jangan dibiarkan berlangsung lama. Carilah segera selusinya, misalnya dengan kegiatan yang bersifat rekreatif, bahkan bisa dengan rekreasi berdua tanpa harus melibatkan atau membawa anak. Dalam rekreasi itulah bisa saling muhasabah, menilai perjalanan hidup bersama yang telah dilaluinya selama ini. Mencari sisik melik kekurangan dan kelebihan dalam mengarungi behtera kehidupan, serta mencari cara bagaimana mempertahankan yang sudah baik dan cara memecahkan persoalan yang belum teratasi serta mencari cara bagaimana cara melengkapi kekurangan. Dalam rekreasi itu pula tidak tertutup kemungkinan dapat dikektemukan cara baru untuk meningkatkan kwalitas rumah tangga
Tujuan rekreasi berdua tanpa membawa anak adalah untuk membunuh kejenuhan, mengenang kembali saat perkenalan dan untuk semakin merekatkan rasa kasih sayang diantara keduanya. Bukankah saling menyayangi adalah anjuran Rasulullah sebagaimana dalam sabdanya :
~”Sayangilah yang ada di bumi maka kalian akan disayangi oleh yang ada di langit”~ (Muhammad Rasulullah SAW).
9. MEMPUNYAI RASA EMPATI PADA PASANGANNYA.
Rasa Empati merupakan refleksi dari rasa cinta antara keduanya dan saling mencintai adalah tuntunan dan tuntutan dalam pergaulan hidup suami istri sekaligus sebagai tolak ukur kesempurnaan iman. Sabda Rasulullah SAW. :
“
~”Tidaklah beriman seseorang diantaramu sehingga ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”~ (H.R.Bukhari dan Muslim).
Maksud yang terkandung dari pengertian mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri adalah berusaha untuk bisa memberikan kepada orang lain segala yang dia inginkan untuk dirinya sendiri dan tidak memberikan kepada orang lain segala sesuatu yang ia sendiri tidak pernah mengharapkannya bahkan membencinya. Misalnya, setiap orang pasti menginginkan agar dirinya dihormati, dihargai, dimulyakan dan dicintai dan tidak mau jika ia dilecehkan, dihinakan, diremehkan, dibenci dan tidak dihargai. Cobalah berusaha agar seorang suami atau istri bisa memberikan apa yang diharapkannya itu kepada orang pasangannya terlebih dahulu seperti; menghormati, menghargai, memuliakan dan mencintainya. Dan tidak memberikan apa yang tidak pernah ia harapkan seperti; tidak melecehkan, tidak mebghinakan, tidak meremehkan dan tidak memberncinya serta jangan sampai tidak menghargainya. Maka Insya Allah, hubungan antara suami isrti itu akan harmonis karena ada empati antara keduanya
10. PERLU ADANYA KETERBUKAAN.
Jangan sampai memendam masalah hingga bertumpuk atau jangan sampai kran komunikasi suami istri tersumbat. Memendam masalah akan menimbulkan kebuntuan hati yang akan berakibat munculnya kebencian, ketidak puasan bahkan kemarahan antar suami istri, saling menyalahkan dan sulit untuk saling mengakui kesalahan dan memaafkan. Pada akhirnya ketaqwaan akan sirna dari keduanya.
Allah SWT. berfirman:
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ . وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”~ (QS. Ali Imran: 133-135)
Semoga tulisan bisa menjadi bahan bacaan yang berarti bagi termujudnya keluarga SAKINAH, MAWADDAH dan RAHMAH. Kepada Yang saya hormati Fariq Gasim semoga ilmu yang menjadi landasan pengembangan tulisan ini, menjadi bagian dari ilmu yang bermanfaat bagi sesame dan menjadikan jalan menuju kemuliaan sejati disisi Allah bagi beliau di dunia dan di akhirat, aamiin.
*) Disarikan dari buku Lautan Cinta, Fariq Gasim, Darul Qolam, 2005. Diberi tambahan dan disajikan oleh H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud, pada penataran Calon Temanten di KUA. Kecamatan Depok Kabupaten Sleman

Selengkapnya......

Kamis, 15 September 2011

30 KIAT MENDIDIK ANAK


30 KIAT MENDIDIK ANAK
Disajikan oleh : H Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud.
Penyuluh Agama Islam Kec. Depok.

Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian serius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pendidiknya juga ikut memikul dosa karenanya. Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknyaDi antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai berikut:
1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.
2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.
3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya mementingkan perut saja.
4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia melepaskannya.
5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaum wanita.
6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal-hal ini.
7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.
8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur'an dan buku-buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur'an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan meneladani mereka. Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy'ariyah, Mu'tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid'ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang banyak berkembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa.
10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair-syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.
11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagiakannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebarkan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik.
12. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh lagi dengan kemarahan.
13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam berkomunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan dari ayah.
14. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan dan melemahnya kondisi badan.
15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.
16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan bahwa itu tidak baik.
17. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah (atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa menyibukkan diri dengan kegiatan itu.
18. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak (berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membanggakan diri.
19. Melarangnya dari membanggakan apa yang dimiliki orang tuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia bersikap tawadhu', lemah lembut dan menghormati temannya.
20. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.
21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat.
22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.
23. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam.
24. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau dzikir kepada Allah.
25. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.
26. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang-orang yang suka melakukan hal itu.
27. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.
28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.
29. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah-perintah.
30. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).
Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Uraian di atas adalah ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi pendidikan anak perempuan. Wallahu a'lam.
Dari mathwiyat Darul Qasim "tsalasun wasilah li ta'dib al abna''" asy Syaikh Muhammad bin shalih al Utsaimin rahimahullah . [Ubaidillah Masyhadi]

Selengkapnya......

FUNGSI MASJID DAN ADAB DI DALAMNYA


FUNGSI MASJID DAN ADAB DI DALAMNYA
Oleh : H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud
Penyuluh Agama Kecamatan Depok

Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau tidak membangun rumah mewah sebagai tempat peristirahatan, juga tidak membangun gedung pemerintahan. Akan tetapi, didahulukan dibangun adalah masjid sebagai tempat kaum muslimin rukuk dan sujud memasrahkan dirinya kepada Allah swt., tempat beliau menyusun strategi, menyatukan umat, memupuk keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. menyebarkan ilmu pengetahuan dan sekaligus tempat pembinaan umat.
Apa yang dilakukan Rasulullah saw. merupakan isyarat bagi pengikutnya bahwa masjid bukan hanya berupa sebuah bangunan, melainkan juga merupakan tempat memancarnya sinar ilahi yang ditransfer kapada daya kekuatan nalar dan perilaku manusia sehingga mempunyai semangat hidup dan jiwa perjuangan. Masjid dan kaum muslimin laksana ikan dengan air, ikan tidak bisa hidup bila keluar dari air. Masalahnya sekarang, bagaimana sikap seorang muslim terhadap masjid? penuh perhatian dan menjadi pemakmurnya? ataukah menjauhi masjid bahkan menghancurkan fungsinya?
Banyak persoalan yang dihadapi umat Islam, baik masalah keterbelakangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, masih rawannya ukhuwah islamiyah, maupun menggejalanya (bahkan nyata-nyata) tidak punya rasa takut berbuat dosa. Pembunuhan sadis, perzinahan, perkosaan, pencurian dan perampokan yang dilakukan oleh orang dari berbagai jenis dan tingkatan usia. Korupsi dan manipulasi hampir ada di setiap lapisan birokrasi.
Untuk menghadapi berbagai persoalan itu, sebagai alternatif masjidlah tempatnya. Masjid harus dijadikan bengkel rohani bagi masyarakat banyak, pejabat, pelaku bisnis maupun ibu rumah tangga, terutama bagi generasi muda, pelajar dan mahasiswa. Setiap orang tua jangan dulu merasa cukup dan puas hanya mengandalkan sekolah dan kampus saja, akan tetapi harus ada pembinaan intensif rumah, sekolah, lingkungan masyarakat dan juga masjid. Masjid dalam arti luas tidak hanya dipergunakan untuk shalat, melainkan lebih daripada itu, bisa difungsikan sebagai pusat kegiatan positif dalam rangka membangun manusia seutuhnya, sebab pada zaman Nabi saw. pun masjid berfungsi ganda yaitu sebagai tempat membicarakan urusan agama (akhirat) dan juga urusan kesejahteraan umat (dunia).
Secara garis besar fungsi masjid dapat difahami sebagai berikut :
1.Tempat Membina Ketakwaan kepada Allah swt.
Sudah difahami bersama bahwa fungsi utama masjid adalah tempat ibadah, tempat bersujud berserah diri secara total kepada Allah swt. karena itu masjid harus dibangun atas taqwa sebagaimana firman Allah swt.
لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُوْمَ فِيْهِ, فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ أَنْ يَّتَطَهَّرُوْا وَاللهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ
“……. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu mendirikan shalat di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri, dan Allah menukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah; 108)
2.Tempat Membina Ukhuwah Islamiyah
Usaha kedua setelah Rasulullah saw. membangun masjid adalah mempersatukan dan mengakrabkan dua kelompok muhajirin dan anshar. Kedua kelompok ini merupakan dua kekuatan raksasa yang sanggup menumbangkan kebatilan, kamaksiatan dan kekufuran. Karena itu, tidak sepantasnya jika sesama muslim tidak cinta damai, saling bermusuhan dengan saudara seiman dan seagama. Dalam rangka takwa itulah, masjid digunakan sebagai alat untuk mempererat hubungan kekeluargaan di antara sesama muslim, dapat mewujudkan ukhuwah islamiyah dan ummatan waahidatan yang kaljasadil waahid
Jika diamati, saat ini sebagian besar kaum muslimin masih berdiri dan berada di sisi masing-masing. Banyak orang yang merasa dirinya paling benar, paling sah dan orang lain pasti salah, dan pada akhirnya orang yang saling berbeda faham tidak bisa duduk berdampingan sebagai orang yang bersaudara. Alangkah naif dan nyata-nyata keliru jika diantara sesama muslim mempunyai pendirian semacam itu, dan itu bertentangan dengan pernyataan Allah swt. sebagaimana firman-Nya
ِإنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, leh karena itu damaikanlah di antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat (Allah).” (QS. Al-Hujurat; 10)
3.Tempat untuk Meningkatkan Rasa Kebersamaan dan Persamaan Kedudukan
Agama Islam adalah agama yang mengajarkan kebersamaan dan persamaan kedudukan. Di masjid inilah ajaran kebersamaan dan persamaan kedudukan dipraktekkan dan di dalamnya sudah tidak lagi dipersoalkan atribut kebanggaan, pangkat dan jabatan. Tidak memandang apakah dia seorang hartawan, bangsawan ataukah seorang rakyat jelata, semua sama. Semua rukuk dan sujud di hadapan Allah swt. Yang Maha Agung. Demikian pula status sosial seseorang di masjid, semua sama. Seorang pejabat atau rakyat, hartawan atau gelandangan, ia tetap duduk paling depan apabila datang lebih awal. Sebaliknya, siapapun orangnya, tetap duduk di paling belakang jika ia datang paling akhir. Di dalam masjid tidak ada yang super atau istimewa, semua diperlakukan sama, yang membedakan hanyalah tingkat keimanan dan ketakwaannya kepada Allah swt.
4.Tempat Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Jika kita simak perkembangan Islam dari masa ke masa, Islam tidak hanya berada di daratan Arab saja, tetapi telah menyebar ke daratan Eropa. Saat Islam mencapai zaman keemasannya, saat itu pula popularitas Islam dikenal bukan hanya karena jumlah pemeluknya yang semakin bertambah, melainkan pula karena perkembangan ilmu dan filsafatnya yang maju pesat. Di Cordoba Spanyol, ada pusat ilmu pengetahuan yang begitu lengkap, menjadi pusat rujukan para ilmuwan dan cendekiawan dari penjuru dunia, semua berpusat dan bertumpu pada masjid.
Oleh karena itu, sudah saatnya masjid difungsikan kembali sebagai tempat untuk mencari, mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Disadari atau tidak, dalam hal ilmu dan teknologi umat Islam masih jauh tertinggal dari umat lain, sedangkan manusia akan diangkat nilai dan derajatnya, serta dimuliakan dalam pergaulannya karena iman dan ilmunya, sebagaimana firman Allah swt.
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah; 11)
5.Tempat Pembinaan Umat
Yang terakhir, sebagian fungsi masjid adalah tempat pembinaan umat khususnya remaja dan pemuda. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta globalisasi disamping berdampak positif bagi kemajuan suatu bangsa, tetapi juga berdampak negatif sehingga menimbulkan terjadi kenakalan remaja yang cendrung melakukan hal-hal yang bertentangan bukan saja dengan etika moral tetapi juga dengan agama, misalnya pencurian, perzinaan, perampokan, penodongan taupun terlibat dengan pemakaian obat-obat terlarang.
Banyak orang tua kehabisan akal menghadapi kenakalan putera puterinya. Berbagai upaya telah diusahakan untuk kesembuhannya tetapi masalah tersebut belum dapat teratasi. Untuk membatasi perkembangan dan menanggulangi kenakalan remaja adalah dengan mengenalkan mereka kepada tempat pembinaan yang tepat yakni masjid dan membimbing mereka agar menjadi pemakmurnya. Jarang dijumpai aktifis masjid yang terlibat perbuatan kriminal, kalaupun ada maka perlu dipertanyakan apa motivasi dirinya menjadi aktifis masjid.
Ada beberapa manfaat bagi orang yang memakmurkan masjid dinataranya, meningkatnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt., memiliki keyakinan akan adanya pembalasan di hari akhir, semakin tekun dan istiqamah dalam menegakkan shalat, timbulnya kesadaran untuk membayar zakat serta munculnya rasa takut dan hormat kepada Allah swt. sebagaimana firman Allah swt.
إِنَمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, membayar zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah; 18)
Dengan mengetahui fungsi masjid maka diharapkan setiap muslim ikut ambil bagian sebagai pemakmur masjid dengan cara memakmurkan fisik, kegiatan di dalamnya dan ikut memelihara kebersihan dan keindahannya, sehingga dapat menimbulkan rasa senang dan nyaman bagi siapa saja yang datang ke masjid tersebut untuk beribadah. Rasa nyaman akan didapatkan apabila semua jama’ah di dalamnya mengenal adab terhadap masjid.

Adapun adab terhadap masjid dibagi menjadi dua bagian yakni:
  • Adab yang berupa perintah
  1. Menjaga kebersihan
  2. Berdoa ketika akan masuk
  3. Melaksanakan shalat sunnah tahiyyatul masjid
  4. Mengambil shaf yang paling depan ketika shalat berjama’ah
  5. Banyak berdzikir ketika sedang menunggu waktu shalat
  6. Ikut menjaga keamanan terhadap barang-barang milik masjid
  7. Membawa infaq setiap datang ke masjid
  8. Berdoa ketika meninggalkan masjid
  • Adab yang berupa larangan di dalam masjid
  1. Tidak meludah di dalam masjid
  2. Tidak lewat di depan jama’ah yang sedang shalat
  3. Tidak membuat kegaduhan
  4. Tidak bermain-main atau melakukan permainan
  5. Tidak bersengketa dan bertengkar
  6. Tidak mengadakan teransaksi apapun
  7. Tidak mencari barang yang hilang
  8. Tidak melaksanakan shalat sendirian pada saat orang lain sedang melaksanakan shalat
  9. Tidak menjadikan masjid hanya sebagai tempat istirahat dan membuang hajad tanpa beribadah di dalamnya

Selengkapnya......

Kamis, 07 Oktober 2010

KETELADANAN NABI IBRAHIM AS


KETELADANAN NABI IBRAHIM AS

(Sebuah Kajian Tafsir Tematis Surah An-Nahl: 120-123)

Oleh : H Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

Allah SWT. berfirman :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * شَاكِراً لِّأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ * وَآتَيْنَاهُ فِي الْدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ * ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ *

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),~ (lagi) yang mensyukuri ni`mat-ni`mat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. 120. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), ~ Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. ~ Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An-Nahl: 120-123).
Di tengah-tengah hiruk pikuknya orang sibuk mencari idola untuk tokoh panutan, banyak orang mencari idola atau tokoh panutan berdasarkan kesamaan profesi, kesamaan bakat, kesamaan suku, kesamaan asal sekolah dan lain-lain. Nilai-nilai subyektifitas dalam mencari idola lebih banyak mewarnai diri pribadi pencari idola, sehingga kadangkala tokoh yang dijadikan idola itu sebenarnya adalah orang yang sangat tidak pantas dijadikan idola atau tokoh panutan. Bahkan ada juga yang dijadikan idola hanya tokoh kartun atau tokoh dalam dongeng belaka.
Bagi umat Islam sebenarnya tidaklah sulit untuk mencari idola atau tokoh panutan karena umat Islam sudah mendapatkan gambaran nyata tentang orang yang patut dijadikan idola, yakni Nabi Agung Muhammad SAW. Karena Nabi Muhammad SAW. memang merupakan tokoh dunia sepanjang masa yang diakui ketokohannya berdasarkan analisa ilmiah sebagaimana ditulis oleh Michael H. Hart dalam bukunya Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah di Dunia. Michael H. Hart secara obyektif telah memilih Nabi Muhammad SAW. sebagai tokoh nomor satu berdasarkan analisa dan argument yang obyektif dan ilmiah.
Jika Rasulullah Muhammad SAW. sebagai idola kita umat Islam maka pada tulisan ini saya akan memperkenalkan IDOLA SANG IDOLA, yakni NABI IBRAHIM AS. Sebagai idola dari Nabi Muhammad SAW.
Siapakah Nabi Ibrahim AS. itu?. Banyak catatan menuliskan bahwa beliau adalah seorang Nabi generasi ke enam setelah Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Shaleh. Nabi Ibrahim mempunyai silsilah sebagai berikut : Ibrahim bin Aazar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh AS. Beliau lahir di Faddam A’ram yang masuk dalam wilayah Kerajaan Babylonia. Negeri Babylon pada masa itu diperintah oleh seorang raja yang zhalim yakni Namrud bin Kan’aan bin Kus bin Nuh AS.
Sejak masa muda, Nabi Ibrahim terkenal gigih mempertahankan keyakinannya terutama dalam hal konsep KETUHANAN. Dan beliau sejak muda sudah mendakwahkan ajaran tauhid kepada umat manusia yang dijumpainya. Nabi Ibrahim merupakan nenek moyang dari Nabi Muhammad SAW. dari garis keturunan Nabi Ismail AS., dan inti ajaran pokok Nabi Ibrahim AS. kemudian ditetapkan oleh Allah SWT. sebagai inti pokok ajaran Nabi Muhammad SAW. yakni agama Islam. Karena itulah wajar kalau kemudian Nabi Muhammad SAW. menjadikannya sebagai IDOLA-nya, karena itu maka penulis menyebutnya sebagai IDOLA SANG IDOLA.
Ada beberapa pokok ajaran Islam yang merupakan napak tilas Nabi Ibarahim yang oleh Allah diabadikan sebagai bagian dari SYARI’AT ISLAM, diantaranya adalah PELAKSANAAN IBADAH HAJI DI BAITULLAH dan PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN.
Sebagai muslim yang taat kepada Allah SWT. tentu akan selalu ingat peristiwa besar bersejarah yang pernah terjadi pada diri Nabi Ibrahim as. dan putranya Ismail as, yang lulus dalam ujian bakti dari Allah SWT. yakni pada saat menghadapi perintah Allah SWT. agar mengorbankan puteranya Ismail yang sangat dicintainya. Ismail as. juga mengikhlaskan dirinya dikorbankan demi menyambut perintah Allah kepada ayahnya. Keduanya; dengan jiwa besar dan pemikiran yang bijak tetap mentaati perintah Allah karena terdorong oleh keinginan untuk mendahulukan dan mementingkan iman serta cintanya kepada Allah SWT. daripada dorongan kecintaan pada dirinya atau hasrat mencari kepuasan duniawi.
Firman Allah SWT dalam Al-Qur”an :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * شَاكِراً لِّأَنْعُمِهِ.....

“ Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin ( yang dapat diteladani ) lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali dia tidaklah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yang selalu bersyukur atas nikmat Allah . . . . . ” (An-Nahl ; 120 – 121)
Ayat di atas memberikan gambaran tentang kepribadian seorang tokoh masa lalu yang pantas untuk dijadikan teladan. Ada lima kepribadian Nabi Ibrahim yang pantas diteladani yaitu :
1. Pemimpin yang ideal ( Ummah )
Ibrahim AS. yang peristiwa pengorbanannya diabadikan dalam sejarah Islam, dinyatakan oleh Allah sebagai bapaknya para nabi dan diangkat menjadi Imam ( pemimpin ) umat manusia, baik imam dalam kehidupan spiritual, rumah tangga maupun dalam masalah sosial kemasyarakatan. Firman Allah swt :

إِنِّّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ....

“ …Sesungguhnya Kami telah mengangkat engkau (Ibrahim) sebagai Imam (pemimpin) bagi seluruh ummat manusia …“ (QS. Al-Baqarah: 124)
Sebagai Imam, Ibrahim as. memiliki keistimewaan dibanding Nabi dan Rasul lainnya. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sebagai seorang rasul pilihan menjadikan Ibrahim teladan baginya.
Firman Allah SWT dalam surah Al-Mumtahanah ayat 6

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Sesungguhnya pada mereka itu ( Ibrahim dan puteranya ) ada teladan yang baik bagimu; ( yaitu ) bagi orang yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barang siapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha terpuji” (QS. Al-Mumtahanah: 6)
2. Orang yang qanit
Ibrahim merupakan sosok manusia yang sangat patuh kepada tuhannya. Apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. dipatuhi , segala perintah-Nya dilaksanakan dan larangan-Nya pun dijauhi, seluruh hidupnya hanya diperuntukkan mengabdi dan berbakti kepada Allah SWT. semata.
Pengakuan Ibrahim AS. dinyatakan dalam firman-Nya yang berbunyi :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. “ ( QS. Al-An’am: 162 )

لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“ Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang mula pertama berserah diri ( kepada Allah ).” ( Al-An’am: 163 )
3. Orang yang hanif
Sebagai seorang yang hanif, Ibrahim senantiasa berpegang pada kebaikan dan tidak pernah tidak melakukan kebaikan. Dalam perjalanannya mencari kebenaran yang hakiki, dia mencermati peristiwa yang terjadi di alam semesta, menghayati, menganalisa kemudian menyimpulkannya. Akhirnya kebenaran yang dicari didapatkan, sebagaimana pernyataan Ibrahim dalam Alqur-an :

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“ Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cendrung kepada agama yang benar; dan aku bukanlah termasuk diantara orang yang memperselutukan Tuhan ( Allah ). “ ( Al-An’am; 79 )
4. Orang yang teguh pendirian
Sejak muda Ibrahim as telah menunjukkan semangatnya untuk berpegang pada prinsip hidup yang benar dan bersedia berkurban dalam membela keyakinannya, walaupun harus menerima hukuman yang sangat berat dan menyakitkan dirinya. Karena keteguhan pendiriannya menentang kebiasaan dan tradisi orang tua dan masyarakat itulah beliau diusir dari negerinya sendiri.
Ibrahim berpendirian bahwa pandangan ketuhanan orang tuanya, tatacara peribadatan dan penghambaan masyarakat di sekitarnya adalah tidak benar dan bertentangan dengan akal sehat serta menyimpang dari martabat kemanusiaan; karena itulah maka kemudian Ibrahim AS. mengembara ke penjuru negeri tanpa membawa bekal kecuali hanya keyakinan akan kebenaran ilahi.
Firman Allah SWT :

وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ

Ibrahim berkata ( kepada kaumnya ) : “ Apakah kalian hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk tentang itu. Dan aku tidak pernah takut kepada ( malapetaka dari ) sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah; kecuali jika Allah memang menghendaki malapetaka itu harus terjadi (pada diriku).” ( Al-An’am 80 )
5. Orang yang pandai bersyukur
Imannya yang mantap, ibadahnya yang khusyu’ terpadu dengan kesabaran yang luar biasa telah menghasilkan apa yang menjadi idaman hidupnya yakni keluarga sakinah mawaddah dan rahmah. Kelahiran dua orang putra di usia senjanya yakni Ismail dan Ishak AS. disambut dengan rasa syukur dan keistiqamahan, menyebabkan keluarga Ibrahim menjadi cermin keluarga masa depan. Ibrahim as. mengungkapkan rasa syukurnya sebagaimana tersebut dalam Alqur-an :

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء

“ Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku dihari tua (ku) Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku, benar – benar Maha Mendengar (permohonan hamba-Nya).” ( QS. Ibrahim: 39 )
Dengan lima kepribadian tersebut, Allah memberinya beberapa anugerah tambahan sebagaimana firman Allah SWT. berikut ini :

... اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ * وَآتَيْنَاهُ فِي الْدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ * ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ *

“ . . . . Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk diantara orang yang shaleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu: “ Ikutilah millah (agama) Ibrahim seorang yang hanif”, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” ( QS. An-Nahl ; 121 – 123 )
Ayat tersebut menjelaskan bahwa ada lima kemulyaan bagi Nabi Ibrahim as yakni : Sebagai tokoh pilihan, terbimbing ke jalan yang lurus, kebahagiaan hidup di dunia dan kesempurnaan hidup di akhirat serta ajarannya diikuti semua Nabi dan Rasul sesudahnya, bahkan Rasulullah, seorang Rasul pilihan menyatakan bahwa ajaran yang disampaikan kepada ummatnya adalah millah Ibrahim.
Millah Ibrahim artinya ajaran Ibrahim, sebagaimana telah dinyata-kan dalam jejak langkah hidupnya yang menggambarkan tentang betapa kemantapan iman dan kepribadiannya, kesungguhan pengabdian dan pengorbanannya, serta keteguhan melaksanakan perintah Allah dalam membela serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Sebagai umat Muhammad, kita harus mampu meneladani Nabi Ibrahim AS. baik dalam hal ketekunan beribadah, tanggung jawab dalam rumah tangga maupun keikhlasan dalam berkurban sebagai bukti ketaatan dan rasa syukurnya kepada Allah SWT.
Tidak sedikit Allah memberikan nikmat kepada umat manusia, baik berupa kesehatan, penghidupan dan tempat tinggal serta harta yang berlimpah, sehingga mereka tidak mampu menghitungnya, terutama nikmat yang terbesar yakni nikmat Iman dan Islam. Kedua nikmat itulah yang paling menentukan sejahtera dan bahagianya manusia di kemudian hari. Allah SWT. berfirman :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ * إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ *

“ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorban lah.” ( Al-Kautsar 1 – 3 )
Sebagian napak tilas Nabi Ibrahim dan keluarganya yang kemudian menjadi bagian dari syari’at Islam adalah ibadah haji dan kurban. Pada saat saudara kita sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci, marilah kita imbangi dengan semangat berkurban baik dalam bentuk penyembelihan hewan kurban maupun dalam bentuk lain, seperti bantuan kemanusiaan bagi saudara kita yang sedang ditimpa musibah gempa dan gelombang pasang tsunami di Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara.
Memiliki kepedulian sosial kepada sesama merupakan bukti adanya rasa cinta kasih kepada orang lain, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as yang kemudian di tindak lanjuti oleh Nabi Besar Muhammad SAW.
Bagi muslim yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama, Allah akan menjadikan jiwanya tenang dan tentram, kemudian Allah akan memasukkan mereka ke dalam golongan hamba – hamba-Nya yang shalih dan masuk ke dalam surga yang dijanjikan Allah.
Allah SWT. berfirman :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً * فَادْخُلِي فِي عِبَادِي * وَادْخُلِي جَنَّتِي *

“ Hai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba – hamba-Ku ( yang shalih ) dan masuklah ke dalam surga-Ku.” ( Al-Fajr 27 – 30 )
Selanjutnya marilah kita berdoa’a semoga keteladanan Nabi Ibrahim AS. yang menjadi TELADAN dari SANG TELADAN dapat memberikan manfaat bagi upaya peningkatan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. serta memberikan dorongan yang kuat agar bisa hidup lebih istiqamah. Semoga Allah senantiasa memberikan tambahan kekuatan kepada kita sehingga dapat meneladani Nabi Ibrahim as. dan keluarganya serta dapat berperan aktif melanjutkan risalah Rasulullah SAW.

Selengkapnya......

Rabu, 04 Agustus 2010

Akhlak Terhadap Kedua Orang Tua


Oleh : H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

Berakhlak mulia terhadap kedua orang tua merupakan salah satu perintah Allah yang utama. Berulangkali Allah swt. menjelaskan dalam ayat-ayatNya, demikian pula dalam hadits-hadits Nabi Muhammad saw. selalu ada rangkaian perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dengan perintah bersyukur dan menyembah Allah swt. Salah satu ayat tersebut adalah:
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak,karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Q.S. An-Nisaa: 36)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua ditekankan setelah perintah untuk menyembah Allah swt. Hal ini pantas mengingat perjuangan kedua orang tua adalah perjuangan tanpa kenal lelah dan dilakukan secara sukarela. Kalaupun seseorang harus membalasnya, dia tidak akan mampu untuk mengembalikan apa yang telah diberikan oleh kedua orang tuanya secara utuh. Terutama kepada ibu, seorang anak harus berhati-hati agar tidak melukai perasaannya sebab seorang ibu telah berbuat banyak hal dari sejak sang anak masih di dalam kandungan hingga dewasa, bahkan sampai saat ajal tiba. Perjuangan seorang ibu tidak pernah berakhir demi sang buah hatinya. Yang harus diingat adalah pada saat anak itu dilahirkan, nyawa ibu dipertaruhkan walaupun dengan kondisi tubuh yang berada dalam kesukaran dan kepayahan yang bertumpuk-tumpuk.
Dalam salah satu ayat-Nya Allah berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua oraong tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah payah dan menyapihnya dalam masa dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S. Luqman: 14)
Pada saat usia sang anak semakin bertambah dewasa, sejak dari bayi yang baru bisa merangkak, berjalan dan berlari bahkan sampai anak itu beranjak dewasa, kedua orang tua tidak pernah berhenti memberikan kasih sayangnya. Semua dilakukan tanpa merasa lelah dan bosan. Begitulah kiranya jerih payah mereka, khususnya ibu. Demikian pula dengan ayah, tanggung jawab dan pengorbanannya tidak bisa dipandang ringan. Mencari nafkah demi kelangsungan kehidupan anak dan keluarga serta melindungi mereka dari apapun yang mungkin dapat mengganggu. Semua dilakukan tanpa adanya keinginan agar anak dan keluarganya membalas apa yang telah diusahakannya satu demi satu. Melihat semua itu sangatlah terkutuk bagi seorang anak yang tega berbuat durhaka kepada keduanya. Bahkan Allah menetapkan dosa besar bagi anak yang berbuat demikian, sementara Rasulullah menyatakan jika orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya tidak akan pernah masuk surga
Sisa waktu yang masih diberikan oleh Allah kepada setiap orang, sebaik mungkin dimanfaatkan untuk menyenangkan kedua orang tua dengan memberikan yang terbaik kepada keduanya. Hal penting yang harus diketahui bahwa keridhaan Allah tergantung juga dengan keridhaan kedua orang tua kita. Karena itu hendaknya setiap orang berhati-hati menjaga hati kedua orang tuanya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
“Dan Tuhanmu memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tuamu. Jika salah seorang di antaranya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dan dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu sekali-kali mengatakan kepada keduanya dengan perkataan “ah” dan jangan pula kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. Al-Isra’: 23)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada setiap muslim untuk berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya terutama bila mereka telah berusia lanjut. Allah juga melarang seseorang berkata kasar walaupun hanya dengan berkata “ah” apalagi sampai menghardik ataupun memukul mereka, naudzubillahi min dzalik. Hal semacam ini membuat hati kedua orang tua tersakiti dan bersedih.
Berbakti kepada kedua orang tua merupakan sebuah amal yang begitu mulia sehingga yang demikian ini akan dicintai oleh Allah swt. Ada seorang sahabat Rasulullah saw. yakni Abdullah ibnu Mas’ud yang pada waktu itu menanyakan kepada Rasulullah saw. tentang amal perbuatan yang paling dicintai oleh Allah swt., maka Rasulullah pun menjawab:”Menunaikan shalat tepat pada waktunya.” Kemudian sahabat tersebut bertanya tentang amal apalagi yang paling dicintai oleh Allah swt. Beliaupun menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Dia bertanya lagi, apalagi ya Rasulullah? Beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah.”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. ia menceritakan kedatangan seorang laki-laki kepada Rasulullah saw. dan berkata: “Aku berbaiat (berjanji) kepada tuan (Rasulullah saw.) untuk ikut berhijrah dan berjihad (berperang melawan kaum kafir) dengan tujuan yang mulia yakni mengharap ridha kepada Allah swt.”, lalu Rasulullah bersabda: “Apakah salah seorang dari orang tua anda ada yang masih hidup?” Orang itu menjawab: “ Ya “.lalu Rasulullah bersabda lsgi: “Jadi tujuanmu ini ingin memperoleh pahala dari Allah swt.?” Orang itu menjawab: “Ya (memang itulah tujuanku).” Beliau lalu bersabda: “Kalau itu yang anda harapkan, maka kembali sajalah kepada kedua orang tua anda dan berbuat baiklah dalam menemani keduanya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Dalam hal-hal tertentu, seorang anak memang tidak diperbolehkan untuk menuruti dan berbakti pada perintah kedua orang tuanya, yakni terhadap kemusyrikan dan kemaksiatan. Namun demikian, hal itu janganlah dijadikan alasan untuk tidak mempergaulinya dengan baik dalam persoalan keduniawian. Dalam persoalan ini Allah swt. berfirman:
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan jika keduanya telah memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Luqman: 15)
Memperhatikan keterangan di atas menunjukkan bahwa betapa pentingnya berniat baik kepada kedua orang tua. Sebagai konsekuensi logis dari masalah ini maka orang tua harus dapat membekali anak-anaknya dengan pendidikan yang cukup memadai terutama pendidikan agama. Karena anaklah yang nantinya akan menjadi harapan orang tuanya. Untuk itu setiap orang tua wajib mempersiapkan anak-anaknya dengan bekal agama yang kuat sehingga kelak mereka bisa menjadi anak yang sholeh yang hormat dan menyayangi kedua orang tuanya. Jika suatu saat mereka akan marah kepada kedua orang tuanya, maka mereka akan selalu ingat bahwa Allah melarang memarahi orang tua dan agar bersabar menghadapi keduanya.
Semoga Allah selalu menganugerahkan taufik dan hidayah-Nya kepada hamba-hamba Nya yang beriman sehingga mereka mampu memenuhi kewajiban sebagai anak terhadap kedua orang tuanya dengan sebaik-baiknya sehingga dimasukkan oleh ke dalam golongan hamba-Nya diridhaiNya dan jauh dari murka-Nya. Ingat!!! Jika keridhoan Allah terdapat pada ridha kedua orang tua, maka murka Allah-pun terletak pada murka kedua orang tua pula.

Selengkapnya......