Selamat Datang di Media Online Ibnu Mas'ud...............Pemilik Media Online ini adalah H. Muh. Chaeruddin, Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Depok Kabupaten Sleman...............Silakan Isi Buku Tamu terlebih Dahulu dan Tinggalkanlah Pesan Anda.............Terimakasih atas Kunjungan Anda, Semoga Bermanfaat, Amien.

Kamis, 07 Oktober 2010

KETELADANAN NABI IBRAHIM AS


KETELADANAN NABI IBRAHIM AS

(Sebuah Kajian Tafsir Tematis Surah An-Nahl: 120-123)

Oleh : H Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

Allah SWT. berfirman :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * شَاكِراً لِّأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ * وَآتَيْنَاهُ فِي الْدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ * ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ *

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),~ (lagi) yang mensyukuri ni`mat-ni`mat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. 120. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), ~ Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. ~ Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An-Nahl: 120-123).
Di tengah-tengah hiruk pikuknya orang sibuk mencari idola untuk tokoh panutan, banyak orang mencari idola atau tokoh panutan berdasarkan kesamaan profesi, kesamaan bakat, kesamaan suku, kesamaan asal sekolah dan lain-lain. Nilai-nilai subyektifitas dalam mencari idola lebih banyak mewarnai diri pribadi pencari idola, sehingga kadangkala tokoh yang dijadikan idola itu sebenarnya adalah orang yang sangat tidak pantas dijadikan idola atau tokoh panutan. Bahkan ada juga yang dijadikan idola hanya tokoh kartun atau tokoh dalam dongeng belaka.
Bagi umat Islam sebenarnya tidaklah sulit untuk mencari idola atau tokoh panutan karena umat Islam sudah mendapatkan gambaran nyata tentang orang yang patut dijadikan idola, yakni Nabi Agung Muhammad SAW. Karena Nabi Muhammad SAW. memang merupakan tokoh dunia sepanjang masa yang diakui ketokohannya berdasarkan analisa ilmiah sebagaimana ditulis oleh Michael H. Hart dalam bukunya Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah di Dunia. Michael H. Hart secara obyektif telah memilih Nabi Muhammad SAW. sebagai tokoh nomor satu berdasarkan analisa dan argument yang obyektif dan ilmiah.
Jika Rasulullah Muhammad SAW. sebagai idola kita umat Islam maka pada tulisan ini saya akan memperkenalkan IDOLA SANG IDOLA, yakni NABI IBRAHIM AS. Sebagai idola dari Nabi Muhammad SAW.
Siapakah Nabi Ibrahim AS. itu?. Banyak catatan menuliskan bahwa beliau adalah seorang Nabi generasi ke enam setelah Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Shaleh. Nabi Ibrahim mempunyai silsilah sebagai berikut : Ibrahim bin Aazar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh AS. Beliau lahir di Faddam A’ram yang masuk dalam wilayah Kerajaan Babylonia. Negeri Babylon pada masa itu diperintah oleh seorang raja yang zhalim yakni Namrud bin Kan’aan bin Kus bin Nuh AS.
Sejak masa muda, Nabi Ibrahim terkenal gigih mempertahankan keyakinannya terutama dalam hal konsep KETUHANAN. Dan beliau sejak muda sudah mendakwahkan ajaran tauhid kepada umat manusia yang dijumpainya. Nabi Ibrahim merupakan nenek moyang dari Nabi Muhammad SAW. dari garis keturunan Nabi Ismail AS., dan inti ajaran pokok Nabi Ibrahim AS. kemudian ditetapkan oleh Allah SWT. sebagai inti pokok ajaran Nabi Muhammad SAW. yakni agama Islam. Karena itulah wajar kalau kemudian Nabi Muhammad SAW. menjadikannya sebagai IDOLA-nya, karena itu maka penulis menyebutnya sebagai IDOLA SANG IDOLA.
Ada beberapa pokok ajaran Islam yang merupakan napak tilas Nabi Ibarahim yang oleh Allah diabadikan sebagai bagian dari SYARI’AT ISLAM, diantaranya adalah PELAKSANAAN IBADAH HAJI DI BAITULLAH dan PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN.
Sebagai muslim yang taat kepada Allah SWT. tentu akan selalu ingat peristiwa besar bersejarah yang pernah terjadi pada diri Nabi Ibrahim as. dan putranya Ismail as, yang lulus dalam ujian bakti dari Allah SWT. yakni pada saat menghadapi perintah Allah SWT. agar mengorbankan puteranya Ismail yang sangat dicintainya. Ismail as. juga mengikhlaskan dirinya dikorbankan demi menyambut perintah Allah kepada ayahnya. Keduanya; dengan jiwa besar dan pemikiran yang bijak tetap mentaati perintah Allah karena terdorong oleh keinginan untuk mendahulukan dan mementingkan iman serta cintanya kepada Allah SWT. daripada dorongan kecintaan pada dirinya atau hasrat mencari kepuasan duniawi.
Firman Allah SWT dalam Al-Qur”an :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * شَاكِراً لِّأَنْعُمِهِ.....

“ Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin ( yang dapat diteladani ) lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali dia tidaklah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yang selalu bersyukur atas nikmat Allah . . . . . ” (An-Nahl ; 120 – 121)
Ayat di atas memberikan gambaran tentang kepribadian seorang tokoh masa lalu yang pantas untuk dijadikan teladan. Ada lima kepribadian Nabi Ibrahim yang pantas diteladani yaitu :
1. Pemimpin yang ideal ( Ummah )
Ibrahim AS. yang peristiwa pengorbanannya diabadikan dalam sejarah Islam, dinyatakan oleh Allah sebagai bapaknya para nabi dan diangkat menjadi Imam ( pemimpin ) umat manusia, baik imam dalam kehidupan spiritual, rumah tangga maupun dalam masalah sosial kemasyarakatan. Firman Allah swt :

إِنِّّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ....

“ …Sesungguhnya Kami telah mengangkat engkau (Ibrahim) sebagai Imam (pemimpin) bagi seluruh ummat manusia …“ (QS. Al-Baqarah: 124)
Sebagai Imam, Ibrahim as. memiliki keistimewaan dibanding Nabi dan Rasul lainnya. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sebagai seorang rasul pilihan menjadikan Ibrahim teladan baginya.
Firman Allah SWT dalam surah Al-Mumtahanah ayat 6

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Sesungguhnya pada mereka itu ( Ibrahim dan puteranya ) ada teladan yang baik bagimu; ( yaitu ) bagi orang yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barang siapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha terpuji” (QS. Al-Mumtahanah: 6)
2. Orang yang qanit
Ibrahim merupakan sosok manusia yang sangat patuh kepada tuhannya. Apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. dipatuhi , segala perintah-Nya dilaksanakan dan larangan-Nya pun dijauhi, seluruh hidupnya hanya diperuntukkan mengabdi dan berbakti kepada Allah SWT. semata.
Pengakuan Ibrahim AS. dinyatakan dalam firman-Nya yang berbunyi :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. “ ( QS. Al-An’am: 162 )

لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“ Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang mula pertama berserah diri ( kepada Allah ).” ( Al-An’am: 163 )
3. Orang yang hanif
Sebagai seorang yang hanif, Ibrahim senantiasa berpegang pada kebaikan dan tidak pernah tidak melakukan kebaikan. Dalam perjalanannya mencari kebenaran yang hakiki, dia mencermati peristiwa yang terjadi di alam semesta, menghayati, menganalisa kemudian menyimpulkannya. Akhirnya kebenaran yang dicari didapatkan, sebagaimana pernyataan Ibrahim dalam Alqur-an :

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“ Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cendrung kepada agama yang benar; dan aku bukanlah termasuk diantara orang yang memperselutukan Tuhan ( Allah ). “ ( Al-An’am; 79 )
4. Orang yang teguh pendirian
Sejak muda Ibrahim as telah menunjukkan semangatnya untuk berpegang pada prinsip hidup yang benar dan bersedia berkurban dalam membela keyakinannya, walaupun harus menerima hukuman yang sangat berat dan menyakitkan dirinya. Karena keteguhan pendiriannya menentang kebiasaan dan tradisi orang tua dan masyarakat itulah beliau diusir dari negerinya sendiri.
Ibrahim berpendirian bahwa pandangan ketuhanan orang tuanya, tatacara peribadatan dan penghambaan masyarakat di sekitarnya adalah tidak benar dan bertentangan dengan akal sehat serta menyimpang dari martabat kemanusiaan; karena itulah maka kemudian Ibrahim AS. mengembara ke penjuru negeri tanpa membawa bekal kecuali hanya keyakinan akan kebenaran ilahi.
Firman Allah SWT :

وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ

Ibrahim berkata ( kepada kaumnya ) : “ Apakah kalian hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk tentang itu. Dan aku tidak pernah takut kepada ( malapetaka dari ) sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah; kecuali jika Allah memang menghendaki malapetaka itu harus terjadi (pada diriku).” ( Al-An’am 80 )
5. Orang yang pandai bersyukur
Imannya yang mantap, ibadahnya yang khusyu’ terpadu dengan kesabaran yang luar biasa telah menghasilkan apa yang menjadi idaman hidupnya yakni keluarga sakinah mawaddah dan rahmah. Kelahiran dua orang putra di usia senjanya yakni Ismail dan Ishak AS. disambut dengan rasa syukur dan keistiqamahan, menyebabkan keluarga Ibrahim menjadi cermin keluarga masa depan. Ibrahim as. mengungkapkan rasa syukurnya sebagaimana tersebut dalam Alqur-an :

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء

“ Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku dihari tua (ku) Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku, benar – benar Maha Mendengar (permohonan hamba-Nya).” ( QS. Ibrahim: 39 )
Dengan lima kepribadian tersebut, Allah memberinya beberapa anugerah tambahan sebagaimana firman Allah SWT. berikut ini :

... اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ * وَآتَيْنَاهُ فِي الْدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ * ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ *

“ . . . . Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk diantara orang yang shaleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu: “ Ikutilah millah (agama) Ibrahim seorang yang hanif”, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” ( QS. An-Nahl ; 121 – 123 )
Ayat tersebut menjelaskan bahwa ada lima kemulyaan bagi Nabi Ibrahim as yakni : Sebagai tokoh pilihan, terbimbing ke jalan yang lurus, kebahagiaan hidup di dunia dan kesempurnaan hidup di akhirat serta ajarannya diikuti semua Nabi dan Rasul sesudahnya, bahkan Rasulullah, seorang Rasul pilihan menyatakan bahwa ajaran yang disampaikan kepada ummatnya adalah millah Ibrahim.
Millah Ibrahim artinya ajaran Ibrahim, sebagaimana telah dinyata-kan dalam jejak langkah hidupnya yang menggambarkan tentang betapa kemantapan iman dan kepribadiannya, kesungguhan pengabdian dan pengorbanannya, serta keteguhan melaksanakan perintah Allah dalam membela serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Sebagai umat Muhammad, kita harus mampu meneladani Nabi Ibrahim AS. baik dalam hal ketekunan beribadah, tanggung jawab dalam rumah tangga maupun keikhlasan dalam berkurban sebagai bukti ketaatan dan rasa syukurnya kepada Allah SWT.
Tidak sedikit Allah memberikan nikmat kepada umat manusia, baik berupa kesehatan, penghidupan dan tempat tinggal serta harta yang berlimpah, sehingga mereka tidak mampu menghitungnya, terutama nikmat yang terbesar yakni nikmat Iman dan Islam. Kedua nikmat itulah yang paling menentukan sejahtera dan bahagianya manusia di kemudian hari. Allah SWT. berfirman :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ * إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ *

“ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorban lah.” ( Al-Kautsar 1 – 3 )
Sebagian napak tilas Nabi Ibrahim dan keluarganya yang kemudian menjadi bagian dari syari’at Islam adalah ibadah haji dan kurban. Pada saat saudara kita sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci, marilah kita imbangi dengan semangat berkurban baik dalam bentuk penyembelihan hewan kurban maupun dalam bentuk lain, seperti bantuan kemanusiaan bagi saudara kita yang sedang ditimpa musibah gempa dan gelombang pasang tsunami di Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara.
Memiliki kepedulian sosial kepada sesama merupakan bukti adanya rasa cinta kasih kepada orang lain, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as yang kemudian di tindak lanjuti oleh Nabi Besar Muhammad SAW.
Bagi muslim yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama, Allah akan menjadikan jiwanya tenang dan tentram, kemudian Allah akan memasukkan mereka ke dalam golongan hamba – hamba-Nya yang shalih dan masuk ke dalam surga yang dijanjikan Allah.
Allah SWT. berfirman :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً * فَادْخُلِي فِي عِبَادِي * وَادْخُلِي جَنَّتِي *

“ Hai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba – hamba-Ku ( yang shalih ) dan masuklah ke dalam surga-Ku.” ( Al-Fajr 27 – 30 )
Selanjutnya marilah kita berdoa’a semoga keteladanan Nabi Ibrahim AS. yang menjadi TELADAN dari SANG TELADAN dapat memberikan manfaat bagi upaya peningkatan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. serta memberikan dorongan yang kuat agar bisa hidup lebih istiqamah. Semoga Allah senantiasa memberikan tambahan kekuatan kepada kita sehingga dapat meneladani Nabi Ibrahim as. dan keluarganya serta dapat berperan aktif melanjutkan risalah Rasulullah SAW.

Tulisan Lain Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan berikan kritik dan saran! Terimakasih.