Selamat Datang di Media Online Ibnu Mas'ud...............Pemilik Media Online ini adalah H. Muh. Chaeruddin, Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Depok Kabupaten Sleman...............Silakan Isi Buku Tamu terlebih Dahulu dan Tinggalkanlah Pesan Anda.............Terimakasih atas Kunjungan Anda, Semoga Bermanfaat, Amien.
Tampilkan postingan dengan label Redaksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Redaksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 April 2011

NASKAH KHUTBAH JUM'AT MINGGU INI


ISLAM AGAMA RAHMAT
Oleh : H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

Nabi Muhammad adalah rasul Allah yang terakhir, yang diutus membawa Islam untuk mengatur kehidupan manusia hingga akhir zaman. Kesempurnaan Islam yang menjadi patokan hidup manusia itu merupakan kanikmatan yang paling besar bagi umat manusia, sebab dengan melaksanakan ajaran Islam berarti telah menempuh jalan yang lurus, jalan yang penuh rahmat dan ridha Allah swt.
Nabi Muhammad saw, agama Islam dan kitab suci Alqur-an merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan, karena dengan ketiganya itulah Allah swt mencurahkan rahmatNya kepada seluruh umat manusia dan membimbingnya ke jalan yang diridhai-Nya, jauh dari perilaku maksiat dan segala perbuatan yang dilarang, sehingga wajar kalau dikatakan bahwa ISLAM adalah AGAMA RAHMAT. Allah swt. berfirman :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kami agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah 3)
Dan firman Allah yang lain :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Ambiya’ : 107)
Karena itulah maka sepantasnyalah kalau kita senantiasa mengucap syukur kepada Allah karena telah dibimbing oleh Allah menjadi umat Muhammad dan dapat mengikuti ajarannya yakni Islam, Ungkapan rasa syukur yang sempurna adalah dengan jalan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya sekaligus sebagai upaya kita meningkatkan iman dan taqwa kepadaNya.

Sebagai agama rahmat, Islam telah mengangkat harkat dan martabat manusia pada ketinggian dan kemuliaan dan selalu konsisten dalam mempertahankan kemuliaannya. Dan untuk mempertahankan eksistensi kemuliaan manusia itu, Islam telah memberikan batasan tentang makanan dan minuman yang diharamkan.
Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh manusia mempunyai pengaruh yang sangat besar, baik terhadap pertumbuhan jasmani manusia maupun perkembangan rohaninya. Adanya tanda-tanda halal dan haram menunjukkan bahwa Allah amat sayang kepada hambaNya, tetapi sayangnya banyak yang beranggapan bahwa Islam merupakan agama yang terlalu picik dan sangat membatasi. Kelompok yang berfaham demikian itu menunjukkan bahwa mereka belum mengetahui tentang apa sebenarnya Islam itu.
Bila makanan dan minuman yang dikonsumsi itu halal maka energi yang diserap oleh tubuh akan baik dan cenderung menghasilkan perilaku yang shaleh, namun sebaliknya bila energi itu diperoleh dari yang haram maka kecendrungannya pun pada prilaku makskiat dan sangat sulit untuk diseru pada kebaikan, karena sudah terpengaruh oleh perilaku setan yang masuk bersama makanan dan minuman haram yanfg dikonsumsinya tersebut.
Firman Allah swt.
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, karena itu adalah perbuatan fasik.” (QS. Al-Maidah : 3)
Dan firman Allah swt pada ayat yang lain :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ .
“Hai orang–orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghal;angi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah : 90-91)
Ayat-ayat di atas memberikan gambaran bahwa makan makanan dan minum minuman yang haram akan sangat berpengaruh terhadap prilaku seseorang, oleh karena itu kita sebagai orang yang beriman harus betul-betul berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan dan minuman agar kita selamat dalam menjalani hidup dan kehidupan.
Bagi orang yang beriman apapun yang terjadi, jika sesuatu itu merupakan larangan Allah, maka harus ditinggalkan dan berusaha untuk bisa menjauhinya, dengan suatu keyakinan bahwa apa yang dilarang oleh Allah itu pasti mengandung kemudharatan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Sebaliknya apa yang diperintahkan oleh Allah pasti mengandung kemashlahatan bagi diri dan orang lain, karena itu harus dilaksanakan
Makanan dan minuman juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan jasmani dan kebersihan rohani, karena itu di dalam Islam ada anjuran jika seseorang sakit agar memperbanyak istighfar selama masa sakitnya, karena boleh jadi sakitnya itu merupakan bagian dari peringatan Allah yang diakibatkan oleh endapan makanan dan minuman yang haram yang dikonsumsi baik secara sadar maupun tidak. Bahkan Islam melarang orang berobat dengan sesuatu yang haram, sebagaimana sabda Rasulullah saw :
اِنَّ الله َاَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لَكُمْ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ
“Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan untuk kamu bahwa setiap penyakit ada obatnya, oleh karena itu berobatlah, tetapi jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud)
Keharaman makanan dan minuman itu tidak hanya sebatas pada mereka yang mengkonsumsi saja, tetapi lebih jauh dari pada itu, sampai pada sumber akar-akarnya, yaitu pada pengusahanya, penjual dan siapapun yang ikut berperan serta pada makanan dan manuman yang haram itu, sebab senua itu merupakan mata rantai yang tak bisa dipisahkan. Seseorang yang ikut berperan dalam lingkungan tersebut meskipun tidak ikut menikmati, tetap terkena keharamannya dan terlaknat. Sebagai analog perhatikan sabda Rasulullah saw. berikut ini:
لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الْخَمْرِ عَشَرَةً : عَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَشَارِبَهَا وَحَامِلَهَا وَالْجُمُوْلَةَ اِلَيْهِ وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَأَكْلَ ثَمَنِهَا وَالْمُشْتَرِى لَهَا وَالْمُشْتَرَاهُ لهَاَ
“Nabi SAW. melaksanat tentang khamar terhadap sepuluh golongan: 1. Pembuatnya, 2. Pengusaha, 3. Peminum, 4. Biro jasa, 5. Pelaku (agen/Penjual), 6.Pelayan, 7. Pengecer (toko), 8. Yang makan hasil penjualannya, 9. Yang membelinya (pentraktir) dan 10. Yang minta dibelikan.” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)
NAU’DZU BILLAHI MIN DZALIK , betapa dahsyatnya akibat dari makanan dan minuman yang haram bagi keselamatan hidup manusia. Adalah tugas dan kewajiban kita untuk menjauhkan diri dari makanan dan minuman yang diharamkan oleh Allah, dan selanjutnya kewajiban kita pula untuk menyelamatkan keluarga dan lingkungan kita dari perbuatan yang dilaknat itu agar kita dan keluarga terselamatkan dari api neraka serta betul-betul merasakan betapa kedatangan Islam itu membawa rahmat bagi tata kehidupan di alam yang fana ini.
Sebagai penutup dari khutbah ini , kita perhatikan firman Allah berikut ini :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari (siksa) api nereka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6)
Selanjutnya, marilah kita senantiasa memohon bimbingan dan petunjukNya agar kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan dapat pula menjauhi segala yang dilarang dan diharamkan olehNya, dan semoga pula kita dapat menjalani hidup dan kehidupan sebagai orang yang istiqamah serta mengakhiri hidup sebagai orang yang husnul khotimah. Amien

Selengkapnya......

Sabtu, 01 Januari 2011

Kontak Kami

Perkenalkanlah pemilik media online ini adalah H. Muh. Chaeruddin. Sehari-hari saya bertugas sebagai Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Depok Kabupaten Sleman. Bagi yang berkeinginan menghubungi saya, dapat kontak atau tulis pesan lewat:
1. Buku Tamu Media Online ini;
2. Kotak Pesan Singkat Media Online ini juga;
3. email: http://hajichaerudin@gmail.com; atau
4. Datang ke KUA Kec. Depok. Jl. Raya Tajem km 1,5 Maguwoharjo, Depok, Sleman.

Selengkapnya......

Sabtu, 18 Desember 2010

CINTA DAN MENCINTAI ALLAH

CINTA DAN MENCINTAI ALLAH
Imam Ibnu Qayyim mengatakan, "Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; memba-tasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka ba-tasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.
Kebanyakan orang hanya membe-rikan penjelasan dalam hal sebab-musabab, konsekuensi, tanda-tanda, penguat-penguat dan buah dari cinta serta hukum-hukumnya. Maka batasan dan gambaran cinta yang mereka berikan berputar pada enam hal di atas walaupun masing-masing berbeda dalam pendefinisiannya, tergantung kepada pengetahuan,kedudukan, keadaan dan penguasaannya terhadap masalah ini. (Madarijus-Salikin 3/11)
BEBERAPA DEFINISI CINTA:
1. Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai).
2. Kesediaan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya.
3. Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia daripada diri dan harta sendiri, seia sekata dengannya baik dengan sembunyi-sebunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang.
4. Mengembaranya hati karena mencari yang dicintai sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya.
5. Menyibukkan diri untuk mengenang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.
6. Kesedian berkorban untuk memenuhi keinginan yang menjadi buah hatinya dan melaksanakannya dengan pebuh keikhlasan.
PEMBAGIAN CINTA
1. Cinta ibadah
Ialah kecintaan yang menyebabkan timbulnya perasaan hina kepadaNya dan mengagungkanNya serta bersema-ngatnya hati untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala larangaNya.
Cinta yang demikian merupakan pokok keimanan dan tauhid yang pelakunya akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang tidak terhingga.
Jika ini semua diberikan kepada selain Allah maka dia terjerumus ke dalam cinta yang bermakna syirik, yaitu menyekutukan Allah dalam hal cinta.
2. Cinta karena Allah
Seperti mencintai sesuatu yang dicintai Allah, baik berupa tempat tertentu, waktu tertentu, orang tertentu, amal perbuatan, ucapan dan yang semisalnya. Cinta yang demikian termasuk cinta dalam rangka mencintai Allah.
3. Cinta yang sesuai dengan tabi'at (manusiawi),
yang termasuk ke dalam cintai jenis ini ialah:
a. Kasih-sayang, seperti kasih-sayangnya orang tua kepada anaknya dan sayangnya orang kepada fakir-miskin atau orang sakit.
b. Cinta yang bermakna segan dan hormat, namun tidak termasuk dalam jenis ibadah, seperti kecintaan seorang anak kepada orang tuanya, murid kepada pengajarnya atau syaikhnya, dan yang semisalnya.
c. Kecintaan (kesenangan) manusia kepada kebutuhan sehari-hari yang akan membahayakan dirinya kalau tidak dipenuhi, seperti kesenangannya kepada makanan, minuman, nikah, pakaian, persaudaraan serta persahabatan dan yang semisalnya.
Cinta-cinta yang demikian termasuk dalam kategori cinta yang manusiawi yang diperbolehkan. Jika kecintaanya tersebut membantunya untuk mencintai dan mentaati Allah maka kecintaan tersebut termasuk ketaatan kepada Allah, demikian pula sebaliknya.
KEUTAMAAN MENCINTAI ALLAH
1. Merupakan Pokok dan inti tauhid
Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Sa'dy, "Pokok tauhid dan inti-sarinya ialah ikhlas dan cinta kepada Allah semata. Dan itu merupakan pokok dalam peng- ilah-an dan penyembahan bahkan merupakan hakikat ibadah yang tidak akan sempurna tauhid seseorang kecuali dengan menyempurnakan kecintaan kepada Rabb-nya dan menye-rahkan seluruh unsur-unsur kecintaan kepada-Nya sehingga ia berhukum hanya kepada Allah dengan menjadikan kecintaan kepada hamba mengikuti kecintaan kepada Allah yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenteraman. (Al-Qaulus Sadid,hal 110)
2. Merupakan kebutuhan yang sangat besar melebihi makan, minum, nikah dan sebagainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata: "Didalam hati manusia ada rasa cinta terhadap sesuatu yang ia sembah dan ia ibadahi ,ini merupakan tonggak untuk tegak dan kokohnya hati seseorang serta baiknya jiwa mereka. Sebagaimana pula mereka juga memiliki rasa cinta terhadap apa yang ia makan, minum, menikah dan lain-lain yang dengan semua ini kehidupan menjadi baik dan lengkap.Dan kebutuhan manusia kepada penuhanan lebih besar daripada kebutuhan akan makan, karena jika manusia tidak makan maka hanya akan merusak jasmaninya, tetapi jika tidak mentuhankan sesuatu maka akan merusak jiwa/ruhnya. (Jami' Ar-Rasail Ibnu Taymiyah 2/230)
3. Sebagai hiburan ketika tertimpa musibah
Berkata Ibn Qayyim, "Sesungguh-nya orang yang mencintai sesuatu akan mendapatkan lezatnya cinta manakala yang ia cintai itu bisa membuat lupa dari musibah yang menimpanya. Ia tidak merasa bahwa itu semua adalah musibah, walau kebanyakan orang merasakannya sebagai musibah. Bahkan semakin menguatlah kecintaan itu sehingga ia semakin menikmati dan meresapi musibah yang ditimpakan oleh Dzat yang ia cintai. (Madarijus-Salikin 3/38).
4. Menghalangi dari perbuatan maksiat.
Berkata Ibnu Qayyim (ketika menjelaskan tentang cinta kepada Allah): "Bahwa ia merupakan sebab yang paling kuat untuk bisa bersabar sehingga tidak menyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya. Karena sesungguhnya seseorang pasti akan mentaati sesuatu yang dicintainya; dan setiap kali bertambah kekuatan cintanya maka itu berkonsekuensi lebih kuat untuk taat kepada-Nya, tidak me-nyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya.
Menyelisihi perintah Allah dan bermaksiat kepada-Nya hanyalah bersumber dari hati yang lemah rasa cintanya kepada Allah.Dan ada perbeda-an antara orang yang tidak bermaksiat karena takut kepada tuannya dengan yang tidak bermaksiat karena mencintainya.
Sampai pada ucapan beliau, "Maka seorang yang tulus dalam cintanya, ia akan merasa diawasi oleh yang dicintainya yang selalu menyertai hati dan raganya.Dan diantara tanda cinta yang tulus ialah ia merasa terus-menerus kehadiran kekasihnya yang mengawasi perbuatannya. (Thariqul Hijratain, hal 449-450)
5. Cinta kepada Allah akan menghilangkan perasaan was-was.
Berkata Ibnu Qayyim, "Antara cinta dan perasaan was-was terdapat perbe-daan dan pertentangan yang besar sebagaimana perbedaan antara ingat dan lalai, maka cinta yang menghujam di hati akan menghilangkan keragu-raguan terhadap yang dicintainya.
Dan orang yang tulus cintanya dia akan terbebas dari perasaan was-was karena hatinya tersibukkan dengan kehadiran Dzat yang dicintainya tersebut. Dan tidaklah muncul perasaan was-was kecuali terhadap orang yang lalai dan berpaling dari dzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan tidaklah mungkin cinta kepada Allah bersatu dengan sikap was-was. (Madarijus-Salikin 3/38)
6. Merupakan kesempurnaan nikmat dan puncak kesenangan.
Berkata Ibn Qayyim, "Adapun mencintai Rabb Subhannahu wa Ta'ala maka keadaannya tidaklah sama dengan keadaan mencin-tai selain-Nya karena tidak ada yang paling dicintai hati selain Pencipta dan Pengaturnya; Dialah sesembahannya yang diibadahi, Walinya, Rabb-nya, Pengaturnya, Pemberi rizkinya, yang mematikan dan menghidupkannya. Maka dengan mencintai Allah Subhannahu wa Ta'ala akan menenteramkan hati, menghidupkan ruh, kebaikan bagi jiwa menguatkan hati dan menyinari akal dan menyenangkan pandangan, dan menjadi kayalah batin. Maka tidak ada yang lebih nikmat dan lebih segalanya bagi hati yang bersih, bagi ruh yang baik dan bagi akal yang suci daripada mencintai Allah dan rindu untuk bertemu dengan-Nya.
Kalau hati sudah merasakan manisnya cinta kepada Allah maka hal itu tidak akan terkalahkan dengan mencintai dan menyenangi selain-Nya. Dan setiap kali bertambah kecintaannya maka akan bertambah pula pengham-baan, ketundukan dan ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan membebaskan diri dari penghambaan, ketundukan ketaatan kepada selain-Nya."(Ighatsatul-Lahfan, hal 567)
ORANG-ORANG YANG DICINTAI ALLAH Subhannahu wa Ta'ala
Allah Subhannahu wa Ta'ala mencintai dan dicintai. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman di dalam surat Al-Ma'idah: 54, yang artinya: "Maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah."
Mereka yang dicintai Allah Subhannahu wa Ta'ala :
1. Attawabun (orang-orang yang bertau-bat), Al-Mutathahhirun (suka bersuci), Al-Muttaqun (bertaqwa), Al-Muhsinun (suka berbuat baik) Shabirun (bersa-bar), Al-Mutawakkilun (bertawakal ke-pada Allah) Al-Muqsithun (berbuat adil).
2. Orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam satu barisan seakan-akan mereka satu bangunan yang kokoh.
3. Orang yang berkasih-sayang, lembut kepada orang mukmin.
4. Orang yang menampakkan izzah/kehormatan diri kaum muslimin di hadapan orang-orang kafir.
5. Orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah.
6. Orang yang tidak takut dicela manusia karena beramal dengan sunnah.
7. Orang yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah wajib.
SEBAB-SEBAB UNTUK MENDAPATKAN CINTA ALLAH Subhannahu wa Ta'ala
1. Membaca Al-Qur'an dengan memikir-kan dan memahami maknanya.
2. Berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah yang wajib.
3. Selalu mengingat Allah Subhannahu wa Ta'ala , baik dengan lisan, hati maupun dengan anggota badan.
4. Lebih mengutamakan untuk mencintai Allah Subhannahu wa Ta'ala daripada dirinya ketika hawa nafsunya menguasai dirinya.
5. Lebih mengutamakan untuk mencintai Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Rasulullah daripada mencintai yang selain Allah dan Rasul-Nya
6. Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat Allah.
7. Melihat kebaikan dan nikmat Allah yang telah diterimanya baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
8. Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.
9. Beribadah kepada Allah pada waktu sepertiga malam terakhir (di saat Allah turun ke langit dunia) untuk bermunajat kepadaNya, membaca Al-Qur'an , merenung dengan hati (muhasabah) serta mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah kemudian ditutup dengan istighfar dan taubat.
10. Duduk dengan orang-orang shaleh yang memiliki kecintaan yang tulus kepada Allah dari kalangan para ulama dan da'i, mendengarkan dan mengambil nasihat mereka serta tidak berbicara kecuali pembicaraan yang baik.
11. Menjauhi dan menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari mengingat Allah Subhannahu wa Ta'ala .
Demikian, mudah-mudahan catatan ini dapat memberikan manfaat bagi semuanya. Jika ada kekurangsempurnaan dan kesalahan mohon dilengkapi sendiri, terima kasih.
Disadur dari (kalimat mutanawwi'ah fi abwab mutafarriqah karya Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd oleh Abu Muhammad) dan diberi tambahan oleh H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud.

Selengkapnya......

Rabu, 08 September 2010

Naskah Khutbah Shalat Idul Fitri 1431 H.


DENGAN SEMANGAT KETAQWAAN, KITA TINGKATKAN SOLIDARITAS SOSIAL DEMI TERWUJUDNYA KEADILAN DAN KEMAKMURAN YANG MERATA
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ وَ لِلِّهِ الْحَمْدُ , الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَعَلَ الْعِيْدَ ضِيَافَةً وَكَرَامَةً لِلصَّائِمِيْنَ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ , اَلْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ, وَأَشْهَدُ أََنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْنُ, أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى الْمُتَّبَعِ فِى الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ, صَلاَةً وَسَلاَمًا دَائِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ بَدَّلُوْا نُفُوْسَهُمْ بِعِزَّةِ الإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ , أَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ , أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَا اللهِ فَاتَّقُوا الله يَا أُولِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ . قَالَ الله تَعَالَى :
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً
اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ وَ لِلِّهِ الْحَمْدُ
Jama’ah ied Rahimakumullah........
Pada hari yang penuh barakah, keakraban dan kebahagiaan ini, marilah kita memanjatkan puji dan syukur kepada Allah swt., yang telah menetapkan kita sebagai muslim dan menjadikan hari ini sebagai hari silaturrahim massal antara sesama muslim, guna memperbaharui semangat dan tekad kita dalam rangka peningkatan pengabdian terhadap Allah swt., serta lebih mengokohkan tali persaudaraan dan ukhuwah. Ini merupakan hal penting bagi kita guna menghadapi tugas-tugas hidup selanjutnya, dalam rangka meneruskan pembangunan kehidupan yang lebih baik, lebih maju dan lebih tertib di negeri tercinta ini. Firman Allah swt. dalam surah Hud ayat 61:
هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ
“ Dialah Allah yang telah menciptakan kalian dari bumi dan menuntut kalian agar memakmurkan bumi ini. “
Kita berkumpul di tempat ini guna merayakan hari kemenangan kita, kemenangan jihad mengendalikan hawa nafsu yang sering mengganggu dan merusak jiwa.
Memerangi hawa nafsu bukanlah pekerjaan yang ringan bahkan merupakan tugas yang berat, sebagaimana dinyatakan Rasulullah ketika baru kembali dari perang Hunain yang dahsyat itu :
رَجَعْنَا مِنْ جِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى جِهَادِ اْلأَكْبَرِ
“ Sekarang kita pulang dari peperangan yang kecil menuju peperangan yang besar.“ Para sahabat bertanya : “ Apakah setelah ini akan ada peperangan yang lebih besar Ya Rasul.“Rasulullah menjawab: “ Ya “, “ Jihad memerangi hawa nafsu.“
اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ وَ لِلِّهِ الْحَمْدُ
Jama’ah ied Rahimakumullah........
Sejarah telah membuktikan bahwa jatuhnya suatu bangsa dan negara berpangkal pada ketidak-mampuan warganya dalam mengendali-kan hawa nafsunya, baik penguasa maupun rakyatnya. Allah swt. mengingatkan dalam Alqur-an:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً
“ Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang kaya di negeri itu ( agar taat kepada Allah ), tetapi mereka melakukan ke-durhakaan di negeri itu, maka sudah sepantas-nya berlaku ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS, Al-Isra: 16)
Umat Islam sebagai umat yang beriman telah terpanggil oleh seruan Allah Yang Maha Agung dalam firman-Nya yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“ Wahai orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana puasa itu telah diwajibkan (pula) kepada umat terdahulu, agar kamu bertaqwa.” ( QS, Al-Baqarah: 183 )
Seruan yang amat simpatik dan penuh kasih itu telah menyentuh qalbu setiap mukmin, menggugah kesadaran insan beriman untuk menyambutnya dengan penuh keyakinan serta keikhlasan. Apapun perintah yang datang dari Allah pasti akan membawa kebaikan dan keberkahan.
Kita tinggalkan makan dan minum di siang hari bulan ramadhan bukan karena tidak ada yang dimakan dan diminum, melainkan karena keyakinan dan ketaatan kepada Allah swt. Kita hidupkan malam harinya dengan shalat malam, tadarus Alqur-an, i’tikaf dan lain-lainnya, untuk lebih mendekatkan diri serta memantapkan iman dan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Berzakat, infaq dan shadaqah guna memupuk rasa solidaritas dan kebersamaan serta ukhuwah antar sesama muslim
اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ وَ لِلِّهِ الْحَمْدُ
Jama’ah ied Rahimakumullah........
Bila kita tafakuri dengan seksama, keutamaan bulan suci ramadhan merupakan pencerminan dari lima macam ajaran Islam yang telah di-laksanakan oleh umat Islam, yaitu :
Pertama : Rukuk dan sujud adalah menifestasi dari pengakuan insan akan nilai ketuhanan Yang Maha Esa. Meletakkan dahi sejajar dengan kaki di atas tanah yang sehari-harinya dipijak oleh seluruh makhluk, merupakan pengakuan akan ke-Agung-an Allah serta kekuasaan-Nya. Sadar atas kerendahan serta kelemahan dirinya, bahwa tiada daya dan upaya serta kekuatan apapun kecuali hanya dengan kodrat dan iradat Allah swt semata.
Kedua : Berpuasa adalah pencerminan dari ajaran Islam mengenai pentingnya nilai peri kamanusiaan yang adil dan beradab, supaya jiwanya halus, mampu merasakan penderitaan saudaranya yang lain, kemudian timbul keinginan untuk menolong
وَالله فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيْهِ
“ Allah akan tetap menolong hamba-Nya, selama hamba itu menolong saudaranya.”
Ketiga : Berjama’ah dan berkumpul seperti saat ini adalah pengejawantahan dari nilai - nilai kebersamaan dan persatuan. Kita berkumpul saat ini bukan karena ikatan materi, melainkan karena ikatan Ilahiyyah dan ukhuwah, guna melaksana-kan salah satu firman Allah yang berbunyi:
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً
“ Berpegang teguhlah kalian semua kepada agama Allah dan jangan bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian, ketika (dahulu) kalian saling bermusuhan, kemudian (Allah) meneduhkan hati kalian, maka jadilah kalian bersaudara karena nikmat-Nya.”
اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ وَ لِلِّهِ الْحَمْدُ
Jama’ah ied Rahimakumullah........
Keempat : Saling mengunjungi dan bermaaf-maafan di antara sesama kita, dimulai antara suami istri, sanak saudara, tetangga dan handai taulan, adalah suatu tradisi yang bersumber dari ajaran Allah dan Rasul-Nya, yang mewujudkan rasa kasih sayang sebagai landasan kerakyatan, sebagaimana firman Allah swt.
وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
“ Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, yang dengan (mempergunakan asma-Nya) kamu saling membutuhkan satu sama lain, dan ( peliharalah ) silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu men-jaga dan mengawasi kamu.” (QS, An-Nisa: 1)
Dari silaturrahim itulah kemudian dihasilkan musyawarah. Yang pada kenyataannya tidak sedikit masalah besar dapat diselesaikan melalui musyawarah dan bertukar fikiran
Kelima : Bersedekah, berinfaq dan berzakat atau zakat fitrah adalah salah satu ajaran Islam yang mengandung nilai keadilan sosial, meratakan rizki pemberian Allah kepada seluruh umat manusia, terutama untuk menunjukkan adanya rasa peduli terhadap penderitaan dan kesulitan orang lain yang selalu hidup dalam kekurangan dan kesengsaraan, sebagaimana firman-Nya
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“ Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) ber-laku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran serta permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS, An-Nahl: 90)
Keadilan sosial yang merupakan hak setiap insan bagaikan patri atau perekat persatuan dan kesatuan bangsa yang menjadi syarat ketahanan nasional
اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ وَ لِلِّهِ الْحَمْدُ
Jama’ah ied Rahimakumullah........
Lima macam sikap hidup tadi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan penghayatan dan pengamalan Pancasila, yang menjadi falsafah hidup negara kita, yang dapat menjadi pendorong ke arah terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur, yang mendapat ridha dan ampunan Allah swt.
اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ اَلله أَكْبَرُ وَ لِلِّهِ الْحَمْدُ
Untuk melaksanakan tugas pembangunan dengan baik sangat diperlukan keahlian baik teori maupun teknis di bidangnya. Sedangkan untuk mengarahkan agar pembangunan ini sampai kepada sasarannya diperlukan sikap mental yang kuat, jujur dan bertanggung jawab. Oleh karena itu bekal mental dan ilmu pengetahuan merupakan hal sangat penting. Firman Allah swt.
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ
“ Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan mem-binasakan negeri secara zhalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang suka melakukan kebaikan.” ( QS, Hud: 117 )
Kita berharap dengan hikmah dan semangat yang kita peroleh dari ibadah shaum tahun ini, akan mempertebal keyakinan dan idealisme kita dalam perjuangan selanjutnya. Shaum termasuk jihad akbar sebab pelaksanaan shaum merupakan perang menundukkan hawa nafsu. Nafsu sebagai karunia Allah swt. yang amat berharga , harus dikendalikan kemudian diarahkan pada hal–hal yang berguna bagi sesama.
Jama’ah ied Rahimakumullah........
Membangun bangsa dan negarapun termasuk jihad akbar, sebab selain ia memerlukan keahlian dan kemampuan, juga membutuhkan ketahanan mental. Dengan kata lain pembangunan itu memerlukan otak, tenaga dan moral.
Selanjutnya, kita tingkatkan rasa kebersamaan, guna memupuk semangat persaudaraan dan persatuan diantara kita, memperbaharui tekad dan semangat pengabdian kepada Allah swt. bagi kepentingan manusia itu sendiri. Kita teruskan segala amalan yang kita laksanakan di bulan ramadhan ini pada bulan-bulan berikutnya
Dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya , kira harus berjuang bersama-sama memerangi kemiskinan, kebodohan, kemerosotan akhlak serta meningkatkan rasa takut dan taat kepada kepada Allah. Kita siapkan mental sekuat mungkin agar kita tetap istiqamah dan tahan uji serta tabah menghadapi segala ujian dan cobaan kehidupan ini
Pada akhirnya marilah kita bersama-sama memohon bimbingan dan petunjuknya agar semua dapat melaksanakan amanah yang telah diamanatkan oleh Allah kepada kita sesuai dengan bidang tugas masing-masing. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang kembali bersih dari segala noda dan dosa serta mendapat jaminan kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat kelak. Amin yang Rabbal ‘alamin
ان الله وملائكته يصلون على النبي ياايهاالذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما
اللهم صل و سلم وبارك على سيدنا محمد ....... الى اخر الدعاء

Selengkapnya......

Senin, 21 Juni 2010

Salam Silaturrahim


Assalamu alaikum wr. wb.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Baginda Rasul, Muhammad SAW, Nabi dan Rasul yang telah mengeluarkan umat manusia dari zaman kegelapan menuju ke era yang terang benderang.

Syukur Alhamdulillah, saya sudah mempunyai blog walaupun hanya sederhana. Semoga blog ini dapat menjadi media dakwah dan silaturrahim. Mungkin kita tidak bisa selalu bertemu dan bertatap muka secara langsung dan mungkin saja kita juga tidakm senantiasa mempunyai banyak waktu untuk duduk bersama guna mengkaji persoalan umat. Semoga blog yang sederhana ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk menggantikan semua itu.

Besar harapan saya agar kiranya para Bapak/Ibu/Saudara berkenan untuk memberikan kritik dan saran. Hanya Allah jualah yang akan membalas segala kebaikan Bapak/Ibu/Saudara sekalian.
Wassalamu alaikum wr. wb.

Selengkapnya......