Selamat Datang di Media Online Ibnu Mas'ud...............Pemilik Media Online ini adalah H. Muh. Chaeruddin, Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Depok Kabupaten Sleman...............Silakan Isi Buku Tamu terlebih Dahulu dan Tinggalkanlah Pesan Anda.............Terimakasih atas Kunjungan Anda, Semoga Bermanfaat, Amien.
Tampilkan postingan dengan label Taman Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taman Doa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2011

MERINTIS JALAN MENUJU HIDUP ISTIQAMAH


MERINTIS JALAN MENUJU HIDUP ISTIQAMAH
Oleh: H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud.

Agama Islam mengajarkan kepada para pemeluknya agar selalu memohon kepada Allah SWT. Setiap do’a yang terbit dari hati yang tulus dan ikhlas pasti diperkenankan oleh Allah Yang Maha Pengabul do’a, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.“. ( QS. Al-Baqarah: 186 )
Bahkan Allah mengecam orang yang tidak mau berdo’a kepada-Nya dengan ancaman kehinaan sebagaimana tercantum dalam firman-Nya
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: “ Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang – orang yang menyombongkan diri ( dari berdo’a ) kepada-Ku, akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina“. ( QS. Al-Mu’min: 60 )
Banyak orang mengeluh dan bingung mencari do’a yang tepat untuk dipanjatkan kepada Allah, karena begitu banyaknya variasi do’a disamping belum tahu cara berdo’a yang benar. Berikut ini disajikan suatu do’a yang sangat baik untuk dijadikan pustaka do’a dalam kehidupan sehari – hari, dalam rangka merintis jalan menuju hidup istiqamah
Do’a tersebut sebagai berikut :
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, berilah aku ilham agar tetap mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Kau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku; dan supaya aku mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai serta masukkanlah aku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih“. ( QS. An-Naml: 19 )
قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar tetap mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Kau anugerahkan kepadaku dan kedua ibu bapakku; dan supaya aku mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai serta berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan kepada) anak keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau; dan sesungguhnya aku termasuk (diantara) orang-orang yang berserah diri“. ( QS. Al-Ahqaf: 15 )
Kedua do’a di atas sepintas lalu mempunyai makna dan kandungan yang sama bagi pembacanya, tetapi kalau kita cermati yang melatarbelakangi kedua do’a tersebut, maka sesungguhnya terdapat perbedaan sebagai berikut :
• Do’a yang pertama lebih bersifat umum dan tertuju kepada semua umur
• Do’a yang kedua lebih bersifat khusus bagi orang yang telah mencapai usia 40 tahun
Adapun kandungan dari kedua do’a di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. PANDAI BERSYUKUR
Allah swt. telah memberikan kepada umatnya kenikmatan yang luar biasa besar dan banyaknya, sehingga manusia tidak akan mampu menghitungnya. Maka sebuah keharusan bagi seseorang untuk senantiasa bersyukur atas segala kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.
Allah swt. berfirman:
وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An-Nahl: 18)
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa Allah ta’ala telah memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa dari semanjak bangun tidur hingga tidur kembali, dari ujung kaki hingga ujung rambut, serta dari sesuatu yang abstrak sampai dengan yang konkrit telah Allah berikan kepada umat-Nya. Namun alangkah naifnya jika selama ini banyak manusia yang melupakan kenikmatan tersebut dan berlaku sombong atasnya.
Kesombongan manusia sering menjadikan dirinya takabur dan tidak merasakan kenikmatan yang telah diterimanya selama ini. Manusia harus senantiasa mensyukuri apa yang telah Tuhan anugerahkan kepadanya dengan cara pengabdian dan penghambaan kepada-Nya dengan penuh keikhlasan. Dari sinilah kemudian akan muncul rasa syukur yang benar-benar mendalam, yang selanjutnya dapat merefleksi kepada tingkat kematangan ritual dan perilaku sosial.
Hakikat bersyukur dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Bersyukur melalui pengenalan dan pemahaman tentang arti syukur
2. Bersyukur melalui pemanfaatan karunia Allah secara tepat guna dan tidak israf
3. Bersyukur melalui pelaksanaan amal shaleh baik qalbiyah, lisaniyah maupun badaniyah
Rasa syukur yang senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah hendaknya tidak hanya menjadi bahasa lisan saja, namun benar-benar mampu terealisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana kita harus selalu menggunakan umur kuta untuk tujuan yang baik adalah juga merupakan salah satu manifestasi kita dalam mewujudkan rasa syukur yang benar, maka Allah akan menjamin memberikan tambahan anugrah dan kenikmatan yang lebih banyak, serta kelak kita akan memperoleh kebahagiaan di akhirat.
Allah swt. berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Sedangkan dalam ayat yang lain Allah juga berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعْمَةَ اللّهِ كُفْراً وَأَحَلُّواْ قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ. جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?, yaitu neraka Jahannam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (Q.S. Ibrahim: 28-29)
Adalah sebuah kebodohan besar jika selama manusia tidak mau bersyukur kepada Allah atas limpahan kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita. Apalagi jika kamumketahui bahwa manfaat dari bersyukur adalah akan dikembalikan lagi kepada kita orang yang bersyukur tersebut. Allah ta’ala tidak akan mengambil keuntungan sedikit pun dari perbuatan syukur kita kepada-Nya dan tidak pula Allah akan mendapat kerugian dari orang-orang yang tidak mau mensyukuri kenikmatan yang telah Allah limpahkan kepada kita. Tuhan tidak akan mengambil keuntungan apalagi kerugian, apakah ia bersyukur atau pun tidak. Semoga Allah swt. selalu memberikan kepada kita petunjuk dan hidayah, sehingga kita selalu diterangi-Nya untuk senantiasa mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita umat-Nya.

2. RAJIN MALAKSANAKAN AMAL SHALIH
Manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan ditemani oleh beberapa teman.
1. Ada teman yang menemani sampai batas akhir kehidupannya alias sampai sakaratul maut. Teman ini boleh jadi memperlancar perjalanan ruh keluar dari jasadnya, tatapi bias juga menghambat jalan keluarnya ruh. Hal ini tergantung bagaimana ia bersikap ketika akrab dengan teman-temannya ini. Teman yang dimaksud dalam hal ini adalah: HARTA, PANGKAT, JABATAN, KEDUDUKAN dan sejenisnya.
2. Ada teman yang menemaninya sampai ia masuk ke liang lahadnya. Teman yang ini sudah tidak ia kenal lagi karena ia telah tidak mampu melihat siapa yang ada di sekitarnya. Dan teman inipun tidak akan berlama-lama menemani ia di liang lahadnya dan itupun hanya menunggu di luar, kalaupun ada yang masuk hanya 2 atau 3 orang saja. Teman yang dimaksud adalah: ISTRI, ANAK, TETANGGA, TEMAN SEJAWAT dan sejenisnya.
3. Ada pula teman yang memiliki nilai keabadian. Dikatakan memiliki nilai keabadiaan karena teman ini akan menemani terus sampai hari akhir nanti. Teman yang semacan ini ada yang bias menyebabkannya celaka dan hidup dalam kehinaan di akhirat dan ada pula teman yang menyebakan dirinya mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan yang tiada taranya karena ia mendapatkan keridhaan Allah SWT. Adapun teman yang menyebabkan celaka dan hidup dalam kehinaan adalah kemaksiatan, kemungkaran dan kebathilan yang dilakukan semasa hidupnya, sedangkan teman yang mendatangkan keridhaan Allah yang memberinya kemuliaan dan kebahgiaan di akhirat adalah amal shalih yang dilandasi oleh iman kepada Allah.
Firman Allah SWT.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً . خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلاً
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya”. (QS. Al-Kahfi: 107-108)
Dua ayat tersebut memberikan gambaran bahwa: orang-orang yang beriman dan beramal shaleh disediakan surge Firdaus sebagai tempat tinggal, yang mereka enggan pindah dari tempat itu karena merasakan kenikmatan yang terhingga.

3. PEDULI PADA TUMBUH KEMBANG KEPRIBADIAN ANAK
Anak merupakan amanat dari Allah SWT. Para orang tua wajib melaksanakan amanah Allah dengan baik dan benar dengan selalu membimbing, mendidik dan mengarahkan anak untuk bisa menjadi tabungan akhirat bagi kedua orang tuanya. Dalam menjalankan amanah Allah yang berhubungan dengan pendidikan anak harus dilandasi dengan ketakwaan kepada Allah.
Para orang harus bias menfungsikan dirinya sebagai guru bagi anak-anaknya dengan semboyan “ING NGARSA ASUNG TULADHA, ING MADYA MANGUN KARSA, TUT WURI HANDAYANI yang artinya orang tua bagi anak-anaknya memiliki fungsi SEBAGAI PEMBERI CONTOH/TELADAN, SEBAGAI PEMBIMBING DAN PENDIDIK SERTA SEBAGAI PENGAWAS, PENGARAH agar jalan hidup anak sesuai dengan yang diinginkan oleh kedua orang tuanya yakni sebagai anak yang taat kepada kepada Allah, cinta kepada Rasulullah dan berbakti kepada kedua orang tuanya yang akhirnya anak itu akan berguna bagi diri, agama dan masyarakat lingkungannya.
Firman Allah SWT.
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (QS. An-Nisa: 9).
Bentuk kekhawatiran terhadap perkembangan anak diwujudkan dengan kesungguhan dalam membimbing anak-anaknya dengan memberikan contoh teladan yang tepat dan baik serta para orang selalu jeli dalam mengawasi perilaku anak dalam keseharian, baik ketika berada di lingkungan rumah maupun ketika bersosialisasi dengan masyarakat lingkungannya.

4. SENANTIASA BERTAUBAT DARI SEGALA DOSA
Manusia diciptakan oleh Allah dengan beberapa kelemahan, diantaranya kecendrungan melakukan pelanggaran baik terhadap hukum Allah maupun tatanan yang berlaku di tengah masyarakat yang harus ditaati bersama. Pelanggaran yang dilakukan itu akan membuahkan yang namanya dosa. Jika manusia bergelimang dengan dosa akan menyebabkan hatinya tertutup dan kelam, akibatnya orang itu akan sulit menerima hidayah dari Allah.
Rasulullah SAW. telah memberikan contoh kepada ummatnya agar selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dan tidak menyombongkan dirinya dengan menganggap bahwa dirinya orang yang terbebas dari dosa dan kesalahan. Sebagai gambaran bahwa Rasulullah yang jelas-jelas makshum (terpelihara dari dosa) masih tetap rajin beristighfar dan bertaubat kepada Allah, walaupun untuk menghapus dosa tapi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah karena banyaknya nikmat yang telah diterima dari Allah. (untuk Istighfar dan Taubat di muat dalam tulisan tersendiri)

5. HIDUP ISTIQAMAH DALAM BERIBADAH
Istiqamah artinya jalan yang lurus yang tidak berkelok-kelok, bisa juga diartikan teguh pendirian. Allah menjelaskan bahwa orang yang akan berbahagia di akhirat adalah orang yang berikrar dengan keimanannya dan terus berusaha sekuat tenaga agar keimanannya berdiri tegak, terus menerus dan konsisten, serta tidak tergoyahkan oleh cobaan hidup. Keistiqamahan dapat dipelihara dengan adanya kesadaran melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya dan bersamaan itu diimbangi dengan kesanggupan dan kemampuan menajuhi semua yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Firman Allah SWT.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ . نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ . نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ .
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". ”Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”. ” Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Fushshilat: 30-32)
Ayat di atas memberikan gambaran tentang:
• Orang-orang yang mengakui keesaan Allah dan kekuasaan Allah serta teguh pendirian akan selalu didampingi malaikat yang diutus Allah untuk menjaga dan memelihara jalan hidupnya serta selalu menyampaikan petunjuk Allah kepada jalan yang benar.
• Seorang hamba yang beriman akan memperoleh jaminan kehidupan di dalam surge dengan terpenuhi semua yang diinginkannya dan yang segala yang diminta.
• Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada orang-orang yang beriman, menunjukkan kemuliaan mereka serta mengampuni semua dosa-dosanya.
Demikian sekedar buah pemikiran sederhana yang tertuang dalam dua buah doa yang Insya Allah akan mengantarkan orang yang mau menjadikan wiridan dalam perjalanan hidupnya menjadi orang yang memiliki ketenangan dan ketenteraman serta keistiqamahan sebagai hamba Allah SWT.
Selamat mengamalkan doa ini.
Wallaahu a’lam bishshawab.

Selengkapnya......

Rabu, 13 April 2011

SUCIKAN DIRI GAPAI KESEMPURNAAN HIDUP


SUCIKAN DIRI GAPAI KESEMPURNAAN HIDUP
Oleh : H. Muh Chaeruddin, Ibnu Mas’ud.

Seorang muslim harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt. dan berorientasi kepada kehidupan yang hakiki yakni kehidupan akhirat. Perilaku dan tindakannya harus selektif dan berpegang teguh kepada norma-norma Ilahi. Yang tergambar dalam kehidupannya hanyalah kebahagiaan hidup di alam baqa, sehingga benar-benar menjadi dambaan dan idamannya dalam menjalani hidup dan kehidupan.
Kehidupan orang-orang seperti itu pernah dipesankan oleh Allah SWT. kepada Nabi Daud as. Pesan tersebut sebagai berikut
حَقٌّ عَلَى الْعَاقِلِ اَنْ لاَيَشْتَغِلَّ اِلاَّ بِثَلاَثٍ تَزَوُّدٌ لِمَعَادٍ وَمُؤْنَةٌ لِمَعَاشٍ وَطَلَبُ لَذَّتٍ بِحَلاَلٍ
"Sudah menjadi ketetapan yang hak bagi orang yang berakal supaya mereka tidak disibuki (dalam perjalanan hidupnya) kecuali oleh tiga hal: pertama, mempersiapkan bekal untuk kebahagiaan hari akhir; kedua, mengusahakan kemashlahatan untuk kehidupan di dunia; dan yang ketiga, harus mencari kenikmatan hidup dari rezeki yang halal." (Hadits Qudsi Riwayat Abu Dawud)
Pesan yang terkandung dalam hadits qudsi tersebut adalah bahwa seorang hamba tidak boleh menyibukkan diri dalam menjalani hidup dan kahidupan kecuali untuk tiga perkara yakni:
1. Mempersiapkan bekal sebaik-baiknya untuk menyongsong kebahagiaan hidup dan kemuliaan di akhirat.
2. Mengupayakan tercapainya kesejateraan dan kebahgiaan hidup di dunia yang fana.
3. Dalam menunjang sarana hidup di dunia sebagai landasan untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat, harus dengan cara yang halal dan dibenarkan oleh Allah dan tidak menyimpang dari ketentuan syari’at yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.

Agar seseorang mampu mendekatkan diri kepada Allah dalam menjalani hidup dan kahidupan, dan apa yang dilakukannya selalu berorientasi kepada kehidupan akhirat sebagaimana digambarkan di atas, maka seseorang harus selalu membersihkan dan menyucikan diri lahir batin dengan jalan :
1. TAQWALLAH: Allah telah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki tanggung jawab untuk memelihara, mengolah dan mengatur alam semesta beserta isinya agar dapat diambil manfaatnya untuk kesejahteraan umat manusia. Perlu disadari bahwa segala persoalan yang dihadapi manusia belum tentu dapat dipecahkan hanya dengan mengandalkan akal pikiran saja. Oleh karena itu, Allah swt. telah memberikan tuntunan hidup yang sempurna kepada manusia di dalam melaksanakan amanah-Nya, yaitu agama Islam. Dengan agama Islam Allah membimbing manusia agar taat kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Orang yang taqwa senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan karunia Allah yang telah dianugerahkan kepadanya, mereka tidak akan lepas kendali apabila ditimpa kesusahan atau musibah dan mereka tetap yakin kepada janji Allah, bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi dan akan memberikan rezeki dari arah yang tidak diduga-duga (lihat surah Ath-Thalaq: 2-3)
2. TAWAKKAL: Senantiasa berserah diri kepada kuasa Allah dalam segala hal setelah berikhtiar terlebih dahulu dan menyerahkan hasil akhir dari segala yang diupayakannya kepada Allah serta dia akan menerima ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan. Allah sangat menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya dan Dia akan memberikan kecukupan kepadanya
3. BERILMU: Ilmu merupakan syarat untuk mencapai tujuan hidup dan juga sebagai bukti kebesaran Allah yang akan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Harta yang berlimpah tidak akan memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia kalau tidak disetai ilmu, sebab harta akan habis terkuras oleh tipu muslihat orang lain karena kebodohannya. Demikian pula dengan ibadah, orang yang berilmu akan dapat beribadah lebih sempurna bila dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu, sebab orang berilmu akan lebih memahami arti, tujuan dan dasar ibadah yang sesungguhnya. Sementara orang beribadah tanpa ilmu, ibadahnya hanya ikut-ikutan, maka ibadahnya tidak akan sempurna. Atas dasar itulah, maka orang yang berilmu mendapatkan tempat yang terhormat di sisi Allah swt. bahkan ditinggikan derajatnya sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Mujadalah ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Mujadilah: 11)
4. KHUSYU': Ka'ab Al-Akhbar dalam Tafsir Shawi surah Al-Mukminun ayat 2 memberikan penjelasan bahwa khusyu’ dalam sholat harus memenuhi 3 hal, yakni :
a. Itmamul-arkan wasysyuruth : sempurnanya rukun-rukun dan syarat-syarat shalat
b. Al-istiqamah wat-tuma'ninah fiihaa: istiqomah dan tuma'ninah menjalankannya
c. Muhasabah wa dzikrullah ba'dahaa : melakukan perenungan dan penilaian terhadap ibadah yang baru saja dilaksanakannya kemudian berdzikir dan berdo'a kepada Allah swt.
Dan hanya orang yang khusyu’ hatinyalah yang akan dapat berkumunikasi secara baik dengan Penciptanya, dan dapat menyelami hakikat ibadah yang dilaksanakannya. Dengan demikian, maka ia akan dapat memperoleh ketenangan dan ketenteraman karenanya.
5. QANA'AH: Menyikapi semua anugerah Allah bukan pada bentuk lahiriyahnya, tetapi lebih ditekankan kepada hakikat dari anugerah Allah tersebut. Penilaian terhadap bentuk lahiriyah akan menimbulkan sikap tidak puas dan cenderung memunculkan sikap kecewa, pada akhirnya ia akan melakukan berbagai macam cara untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginnya, tidak peduli apakah cara yang dipakai itu benar atau salah, halal atau haram. Berbeda bagi orang yang menyikapi anugerah Allah dari segi hakikatnya. Penilaian semacam itu akan mendorong seseorang untuk menyadari bahwa Allah menyayanginya sehingga Dia masih berkenan memberikan anugerah-Nya. Pada akhirnya orang tersebut akan selalu bersyukur kepada Allah kemudian berdoa agar selalu mendapat tambahan karunia dan meridhainya.
6. DO'A: Setiap orang mukmin disamping berusaha juga dituntut untuk berdoa, memohon berbagai hal kepada Allah swt. Doa ini dilaksanakan dengan sabar dan shalat baik sebelum maupun sesudah shalat. Allah swt. sangat menganjurkan kepada hamba-hamba-Nya agar selalu berdoa kepada-Nya, bahkan Allah mencela orang-orang yang tidak mau berdoa dan menyebutnya sebagai orang yang sombong. Agar doa seseorang dikabulkan oleh Allah swt. disamping ia harus berdoa dengan penuh keyakinan yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya juga harus memenuhi beberapa persyaratan.
Untuk membantu para pembaca mendapatkan 6 (enam) hal di atas, berikut ini disajikan sebuah doa yang diambilkan dari hadits shahih riwayat Muslim dari Zaid bin Arqam (Jami'ush shaghir hal : 56). Doa tersebut sebagai berikut:
اَللَّهُمَّ اَتِ نَفْسِى تَقْوَهَا وَزَكَّاهَا, اَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا اَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا, اَللَّهُمُّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ, وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ, وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
"Ya Allah, anugerahilah ketaqwaan dalam hatiku dan bersihkanlah, Engkau adalah sebaik-baik pelindung dan menguasainya. Ya Allah aku berlindung kepada Engkau daripada ilmu pengetahuan yang tidak bermanfaat, dan hati yang tidak khusyu' (dalam beribadah), dan nafsu yang tidak (pernah) puas (terhadap anugerah-Mu) dan daripada do'a yang tidak dikabulkan." (H.R. Muslim)
Maksud dari do’a di atas adalah sebagai berikut:
1. Memohon kepada Allah agar dirinya dijadikan orang yang taqwa dan Dia berkenan pula memberikan kemampuan kepadanya untuk memelihara dan mempertahankan ketaqwaannya itu.
2. Mohon kepada Allah agar dijadikan orang yang senantiasa bertawakkal kepada-Nya.
3. Mohon perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat baik bagi diri dan orang lain
4. Mohon perlindungan kepada Allah dari hati yang tidak pernah khusyu’ dalam beribadah
5. Mohon perlindungan kepada Allah dari diri yang tidak pernah merasa puas atas karunia yang telah diterimanya sehingga tidak dapat bersyukur kepada-Nya
6. Mohon perlindungan kepada Allah dari do’a yang tidak dokabulkan oleh-Nya.
Wallaahu a’lam bish-shawaab, semoga tulisan ini bermanfaat bagi semuanya.

Selengkapnya......

Selasa, 12 April 2011

MELEPASKAN DIRI DARI DELAPAN PENYAKIT RUHANI


MELEPASKAN DIRI DARI DELAPAN PENYAKIT RUHANI
Oleh : H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud.

Suatu hari Rasulullah SAW. masuk ke dalam masjid dan dijumpainya seorang Anshar bernama Abu Amamah sedang duduk tafakkur, padahal di saat-saat seperti itu tidak biasanya orang berada di masjid, karena masih jauh waktu shalat. Didekatinya Abu Amamah itu sambil bersabda :
“Wahai Abu Amamah, apa yang mendorongmu duduk-duduk di sini di saat begini, padahal belum tiba waktu shalat ?”. Abu Amamah menjawab: “Kebimbangan hati dan hutang yang melilit leher telah menghantui diriku, ya Rasulullah, sehingga memaksa aku duduk di sini”. Rasulullah SAW. bersabda: “Maukah engkau kuajari sesuatu sekiranya engkau ucapkan, Allah akan menghilangkan kebimbangan, dan hutangmu terlunasi ?,”. “Tentu saja ya Rasulullah”, Rasulullah SAW. bersabda: “Ucapkanlah do’a dan bermohonlah setiap pagi dan petang,
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اَلْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِوَالْكَسَلِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَهْرِالرِّجَالِ
(ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI, WA A’UUDZU BIKA MINAL ‘AJZI WAL KASALI, WA A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI WAL BUKHLI, WA A’UUDZU BIKA MIN GHALABATID DAINI WA QAHRIR RIJAAL) = Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari sikap bimbang dan bermuram durja, aku berlindung kepada Engkau dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan intimidasi orang lain”.
Begitu diajarkan do’a itu oleh RASULULLAH, segera dilaksanakan oleh Abu Amamah. Tak putus-putusnya beliau berdo’a setiap pagi dan sore, sehingga terasa benar pengaruh do’a itu pada dirinya. Rasa bimbangnya hilang dan hutangnyapun terlunasi.

Dari kisah nyata tersebut di atas dapatlah diambil pemahaman bahwa hati bimbang dan lilitan hutang adalah termasuk bagian dari aneka ragam penyakit ruhani.
Ada 8 (delapan) penyakit rohani yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia, karena dapat mengganggu ketenangan hidupnya bahkan dapat berakibat buruk bagi kelangsungan hidup umat manusia baik sebagai individu maupun kelompok.
Kedelapan penyakit rohani yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW. yaitu:

اَلْهَمُّ وَالْحَزَنُ وَالْعَجْزُوَالْكَسَلُ وَالْجُبْنُ وَالْبُخْلُ وَغَلَبَتُ الدَّيْنِ وَقَهْرُالرِّجَالِ
“Sikap bimbang ) ragu ), bermuram durja, lemah tak berdaya, malas, pengecut, kikir, terlilit hutang dan di bawah intimidasi orang lain“
a. Sikap bimbang dan ragu. Suatu sikap yang selalu merasa cemas dan tidak berani berbuat karena takut kalau-kalau tindakannya akan merugikan atau membahayakan dirinya, tingkah lakunya tidak menentu, berbuat tidak , tidak berbuatpun serba salah, labil dan selalu dihantui kekhawatiran usahanya gagal. Kondisi semacam ini sangat merugikan karena orang yang memiliki sikap ini akan sering kehilangan momentum yang sangat berharga bagi kehidupannya.
b. Bermuram durja. Keadaan ini akibat terkena musibah yang beraneka ragam atau menghadapi kesulitan hidup yang tidak dapat dihindari, sulit melepaskan rasa sedihnya bahkan dipertontonkan kepada orang lain untuk menarik perhatian dan simpati orang lain. Kondisi semacam ini dapat mencekam kehidupannya sehingga tidak banyak yang dapat dilakukan, hidupnya hanya bergumul dengan kesedihan.
Dalam hal ini Allah SWT.telah mengingatkan :
وَلاَ تَهِنُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ اْلاَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ
“Janganlah kalian bersikap lemah ataupun bersedih hati, padahal kalian justru umat yang tinggi (martabatnya) sekiranya kalian benar-benar orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).
c. Lemah tiada berdaya. Tiada mempunyai gairah hidup, inisiatif dan tidak kreatif serta tidak mampu menembus hambatan yang kecil sekalipun. Keadaan seperti ini akan menjadi beban bagi orang lain karena hidupnya akan sangat bergantung pada orang lain.
d. Malas. Istilah lainnya adalah penyakit lemah, menunjukkan sikap lesu dan tiada berkemauan, waktunya dihabiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat serta cenderung bermalas-malasan.
e. Pengecut. Tidak berani mengambil tindakan karena takut resiko, tidak ada semangat untuk membela diri sekalipun diperlakukan tidak wajar bahkan tidak adil oleh orang lain. Tidak memiliki sikap ‘iffah, harga diri dan naluri membela diri.
f. Kikir. Kikir berarti menahan sesuatu secara berlebihan untuk dirinya sendiri yang seharusnya diberikan kepada yang lebih perlu. Kekikiran bisa dalam bentuk harta, tenaga maupun pengetahuan. Tidak tergerak hatinya untuk memberi bantuan kepada orang lain walaupun dana dan daya tersedia pada dirinya.
g. Terbenam dalam lilitan hutang. Kehidupan yang tidak seimbang bisa menyebabkan seseorang terlilit hutang. Hidupnya tergadai sehinggga tidak merasa aman dan bebas, tidak enak makan dan nyenyak tidur karena memikirkan jalan keluar dari gangguan hutang.
h. Di bawah intimidasi atau paksaan orang lain, baik yang terang-terangan maupun tersembunyi. Dirinya dikuasai orang lain, tidak mempunyai kemampuan untuk menunjukkan hasrat dan minat dirinya, hidupnya selalu bergantung pada keinginan orang yang menguasai dirinya bahkan merasa khawatir jika yang berkuasa itu pergi meninggalkan dirinya.
Dengan memahami arti dan maksud dari do’a di atas; maka penting kiranya bagi setiap orang yang ingin melepaskan diri dari kemungkinan terjangkit 8 jenis penyakit rokhani yang dimaksud, selalu membaca do’a tersebut setiap pagi dan petang (setelah shalat shubuh dan maghrib) sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw.
Namun perlu diingat bahwa do’a saja tidak cukup, usaha dan upaya untuk berlepas diri dari 8 kondisi di atas harus diwujudkan dengan perbuatan nyata. Sehingga terjadi keseimbangan antara usaha / upaya dan do’a, karena antara keduanya ibarat dua sisi dari satu mata uang yang saling menentukan. Dalam masyarakat jawa ada pameo yang menyebutkan “sing sapa nggremet nglamet, sing sapa obah mamah, klinthing – klinthing oleh biting, klinthong – klinthong oleh genthong“, maksudnya kalau ingin mendapatkan sesuatu maka haruslah berusaha dengan sungguh-sungguh dan disertai do’a kepada sang Pencipta.
Kalau setiap muslim mau mengamalkan amalan Rasulullah tersebut, Insya Allah hidupnya akan penuh dengan barakah-Nya. Ketenangan, ketentraman, semangat dan rasa percaya diri akan menyertainya sehingga apa yang diinginkan dalam hidup ini dapat terwujud, termasuk diantara akan dibebaskan dari kesempitan hidup dan lilitan hutang yang membelenggu hidupnya.
Semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat bagi sesama. Amien

Selengkapnya......

Rabu, 13 Oktober 2010

BERDOALAH KEPADAKU, (PASTI) AKU KABULKAN DOAMU

SAMBIL TIDUR MENDEKATKAN DIRI
KEPADA ALLAH
( Serial Taman do’a )
Oleh: H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud
Seringkali kegelisahan dialami oleh seseorang ketika akan tidur. Kegelisahan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, antara lain ; beban pikiran yang berat, masalah ekonomi, anak, pekerjaan dan lain-lainnya. Untuk menghilangkannya banyak cara dilakukan. Adakalanya dengan cara yang benar tetapi ada pula dengan cara yang tidak benar seperti lari ke dukun misalnya.
Islam telah mengajarkan bagaimana mencari jalan keluar atau solusi yang terbaik, diantaranya adalah membiasakan berdzikir dan berdo’a ketika menjelang tidur. Do’a menjelang tidur yang diajarkan Rasulullah kepada ummatnya, yang dapat mendatangkan ketenangan dan ketentraman bathin salah satunya adalah sebagai berikut :
اَللّهُمَّ إِنِّى أَسْلَمْتُ نَفْسِى إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِى إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ وَالْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَمَلْجَأَ وَلاَمَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ أَللّهُمَّ إِنِّى آَمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ
“ Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu serta Kusandarkan diriku kepada-Mu, penuh harap limpahan pahala-Mu kepadaku dan rasa takut akan ancaman siksa-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan melepaskan diri dari siksa-Mu, melainkan hanya kepada Engkau. Ya Allah, aku percaya kepada kitab yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi yang telah Engkau utus “. ( HR. Bukhari dari Barra’ bin Azib RA. ).
Kandungan dari do’a tersebut sebagai berikut:
1. ISTISLAM.
Berserah diri kepada Allah mutlak harus dilakukan oleh setiap insan beriman, karena kenyataannya manusia tidak mampu berbuat sesuatu tanpa ada bimbingan dan petunjuk Allah. Kesiapan dan kemampuan seseorang untuk melaksanakan perintah dan manjauhi larangan – Nya merupakan bukti nyata bahwa dia telah berserah diri kepada Allah SWT dalam arti sesungguhnya.
2. TAWAJJUH ILALLAH.
Menghadapkan diri kepada Allah mempunyai makna bahwa apa yang dilakukannya semuanya diperuntukkan untuk pengabdian kepada Allah.
3. TAFWIDHUL AMRI ILALLAH.
Menyerahkan segala urusan kepada Allah maksudnya adalah, bahwa segala usaha dan upaya manusia dalam kehidupan tidak akan terlepas dari kuasa Allah, karena itu setelah manusia berusaha hendaknya diikuti sikap tawakkal atau berpasrah diri kepada Allah SWT.
4. ISTI’ANAH ‘ALALLAH.
Menyandarkan diri kepada Allah artinya hanya kepada Allah-lah manusia memohon pertolongan dan tambahan kekuatan, sehingga dapat berdaya guna dan berhasil guna dalam memanfaatkan karunia Allah di dunia untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia sampai akhirat kelak.
5. AR – RAJA’.
Penuh harap atas limpahan pahala maksudnya bahwa setiap perbuatan yang baik diyakini pasti mendapat balasan kebaikan pula dari sisi Allah.
6. AL – KHAUF.
Rasa takut akan ancaman siksa dari Allah, maksudnya bahwa semua perbuatan yang tidak baik dan dosa yang tidak mendapatkan pengampunan-Nya, pasti akan mendapatkan balasan yang tidak menyenangkan, dan itulah yang dikatakan azab Allah.
7. ISTI’ADZAH.
Mohon perlindungan dan keselamatan dari azab dan siksa hanya kepada Allah karena tempat berlindung dan melepaskan diri dari azab dan siksa – Nya hanyalah Allah SWT.
8. ISTIQAMAH.
Pernyataan keimanan kepada kitab Alqur-an yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dan kepada ke-Rasul-an Nabi Besar Muhammad SAW. Keimanan tersebut diwujudkan dengan kesanggupan untuk melaksanakan perintah Allah, mengikuti jejak langkah dan tauladan Rasulullah SAW. serta menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya secara ikhlash, istiqamah dan berkesinambungan.
Agar lebih sempurna, sebaiknya dilengkapi dengan bacaan lain seperti yang diajarkan Rasulullah kepada Siti ‘Aisyah RA agar melaksanakan empat perkara sebelum tidur, sebagaimana bunyi hadits barikut ini :
ياَعَائِشَةَ، لاَتَنَامِى حَتّى تَفْعَلِى أَرْبَعَةَ أَشْيَاءَ، حَتّى تَخْتِمِى الْقُرْأنَ وَحَتّى اْلأَنْبِيَاءُ وَالْمُرْسَلُوْنَ يُصَلُّوْاعَنْكِ وَحَتّى الْمُسْلِمُوْنَ وَالْمُسْلِمَاتُ أَلأَحْيَاءُ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتُ رَاضُوْنَ عَنْكِ وَحَتّى تَحُجِّى وَتَعْتَمِرِى ( رؤاه أبو نعيم عن عائشة )
“ Wahai ‘Aisyah, janganlah kau tidur sebelum melaksanakan empat perkara, sebelum mengkhatamkan Alqur-an, Para Nabi dan Rasul memberikan syafa’at kepadamu, Orang Muslim laki – laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati ridha kepadamu dan sebelum kau berhaji dan umrah “ ( HR. Abu Na’im dari ‘Aisyah RA. )
1. Menghatamkan Al – Qur’an, maksudnya adalah membaca surah Al - Ikhlas tiga kali dilanjutkan surah Al - Mu’awwidzatain dan ditutup surah Al-Fatihah.
2. Mengharapkan syafa’at para Nabi dan Rasul. Yang dimaksud adalah membaca shalawat kepada Nabi Agung Muhammad SAW, dilanjutkan shalawa kepada Nabi Ibrahim as. dan keluarganya.
3. Menggapai ridha Allah SWT. dengan cara mencari keridhaan umat Islam, baik yang masih hidup maupun yang telah meningal dunia. Maksudnya adalah mendo’akan kedua orang tua dan kaum muslimin dan muslimat menjelang tidur
رَب اغْفِرْلِى وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابِ
Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan orang mukmin sampai hari kiamat nanti
4. Berhaji dan Umrah. Maksudnya adalah sebelum tidur membaca tasbih secara lengkap sebagaimana tasbihnya orang yang sedang melakukan thawaf di Baitullah, sehingga mendapatkan nilai kebaikan orang yang melaksanakan haji dan umrah.
Adapun bacaan tasbih tersebut sebagai berikut :
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَلاَ إِلهَ إِلاَّ الله ُوَالله ُأَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِّىِّ الْعَظِيْمِ
“Maha Suci Allah, segala puji hanya milik Allah, Tidak ada tuhan selain Allah dan Allah itu Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali ( hanya anugerah ) Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”.
Jika umat Islam selalu membaca do’a dan berdzikir setiap akan tidur sebagaimana yang dituliskan di atas, maka dapat dipastikan hidupnya akan tentram dan damai, karena selalu berada dalam bingkai keimanan yang sempurna, tetap optimis dan percaya diri serta husnuzhzhan kepada Allah SWT. yang telah menciptakan dan memelihara dirinya.

Selengkapnya......

Rabu, 04 Agustus 2010

Penghalang Terkabulnya Do'a

Oleh : H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

Do’a merupakan bagian tak terpisahkan dari usaha dan ikhtiyar manusia untuk mencapai tujuan dalam kehidupannya, baik dalam kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Permasalahan do’a tidak bisa dianggap remeh karena ikut menentukan kesuksesan seseorang dalam mencapai tujuan hidupnya. Agar do’a seseorang bisa terkabul dan berhasil guna maka ketika seseorang berdo’a hendaknya memperhatikan beberapa hal yang dapat menentukan apakah do’anya itu terkabul atau tidak. Allah SWT. telah memberikan pedoman bagaimana cara berdo’a yang benar.
Allah SWT berfirman dalam Alqur-an :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu telah berfrman : “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesunguhnya orang-orang yang (angkuh lagi) menyombongkan diri dari menyembah ( berdo’a ) kepada-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Al-Mukmin 60)
Pada ayat yang lain Allah juga berfirman
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu ( Muhammad ) tentang Aku, maka ( jawablah) bahwasanya Aku dekat. ( Karena itu ) Aku senantiasa mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon )kepada-Ku(, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala) perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah 186)
Rasulullah SAW telah bersabda :
أُدْعُوااللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالإِجَابَةِ, وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيْبُوْا دُعَاءَ مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ وَلَاهٍ ( رواه الترمذى واالحاكم عن أبى هريرة )
“Berdo’alah kepada Allah, dan (hendaklah) kamu senantiasa yakin bahwa do’a itu dikabulkan (Allah), dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do’a orang yang hatinya sepi dari pengharapan lagi mengabaikan (kemurahan) Allah”.
Seorang Ulama besar dari Bashrah Syeikh Ibrahim bin Adham telah mengelompokkan penghalang terkabulnya do’a sebagai berikut :
1. Mengetahui dan meyakini adanya Allah SWT. tetapi tidak memenuhi hak-hak Allah.
2. Sering mempelajari dan membaca Alqur-an, tetapi tidak mengamalkan isinya
3. Mengajak orang lain agar cinta kepada Rasulullah SAW. tetapi enggan melaksanakan sunnahnya
4. Menyatakan diri sebagai musuh syetan tetapi seringkali meniru perbuatan syetan
5. Berdo’a agar terhindar dari siksa api neraka, kenyataan-nya sering melakukan perbuatan yang dapat menjerumuskan dirinya ke jurang neraka
6. Berdo’a agar Allah memasukkannya ke dalam surga tetapi tidak mau melaksanakan amal shaleh
7. Mengetahui dan meyakini bahwa kematian itu pasti datang tetapi tidak mau mempersiapkan diri untuk menyongsong kematian tersebut
8. Senang mengurusi aib dan kekurangan orang lain tetapi tidak mau menilai aib dan kekurangan diri
9. Selalu menerima dan menikmati karunia dari Allah tetapi tidak bersyukur kepada-Nya
10. Sering ikut mengantar dan menguburkan janazah tetapi tidak mau mengambil i’tibar dari padanya
Dengan demikian, jika berdo’a kepada Allah hendaknya selalu mengingat dan mempersiapkan diri mengisi hidup ini dengan amal shalih. Mengingat segala dosa yang telah dilakukannya kemudian bertaubat kepada Allah dan tidak mengulangi lagi, karena menyadari bahwa kehidupan dunia ini kelak akan berakhir. Mempersiapkan diri menyongsong kematian dengan memohon ampunan dari segala dosa agar selamat dan mendapat kebahagian baik di dunia maupun di akhirat kelak, melaksanakan perintah - perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sehingga sepuluh perkara yang menjadi penghalang terkabulnya do’a dapat dihindari. Berdo’a dengan khusyuk sambil merendahkan diri di hadapan Allah SWT. serta penuh harapan dan keyakinan bahwa Allah senantiasa mengabulkan permohonan hamba-Nya yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Al-Ghazali telah memberikan gambaran bagaimana cara berdo’a yang benar, sehingga memungkinkan do’a dikabulkan Allah SWT sebagai berikut :
1. Dalam keadaan berwudhu’
2. Menutup aurat ( zhahiran wa bathinan )
3. Menghadap ke arah kiblat sambil menengadahkan tangan ke langit
4. Berdo’a setelah selesai shalat fardhu
5. Berdo’a setelah shalat tahajjud
6. Pada saat sedang berpuasa selagi belum berbuka puasa
7. Didahului dengan melaksanakan amal shaleh
8. Tidak memakai pakaian yang diperoleh dengan cara yang haram
9. Tidak makan makanan yang subhat apalagi haram baik secara hakiki maupun sababiyah
10. Menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berbau ma’siyat dan munkarat.

Selengkapnya......